Tangis bangganya hatiku..

Tangis itu bukan hanya karena melihat sigadis kecil yang harus merantau sendiri di negeri orang, tapi juga karena dua orang kakaknya pun akan segera meninggalkan negeri tercinta untuk sebuah cita cita.

Istriku sayang, Anak anak kita kini sudah mandiri, dan rasanya begitulah harapan semua orang tua, namun, sebenarnya hati ini remuk juga saat harus melihat sendiri anak anak kita melangkah tegak menyongsong masa depannya untuk mandiri.

Tangis bangga ini telah membuat airmataku meleleh sepanjang penerbangan 7 jam dari Haneda menuju Cengkareng.

Bagaimana tidak…?! Kini kalian sudah tidak lagi membutuhkan kami, kalian begitu siap untuk melangkah menyambut takdirmu, sementara itu kami terus meratapi kedewasaan kalian dalam kenangan masalalu saat kalian begitu rapuh dan manja, seakan kami adalah pahlawan bagi kalian.

Bangga itu membuat dada terasa sesak, apalagi harus berpura pura tegar dan tak lagi mampu menoleh kebelakang, karena hanya akan membuat tangis semakin keras. Maafkan ayahmu yang ingin terlihat kuat, tak ingin memelukmu lebih lama karena tak ingin membiarkan airmata ini terus meleleh. Biar waktu menjadi pelipur rindu, masih banyak saat saat bahagia nanti yang akan kita lalui lagi, jadikan setiap momentum menyimpan kenangan indah buat kita semua….

Jadilah dewasa… kepakan sayap kalian… terbang tinggi ke angkasa… jadikan setiap prestasimu kebangaan kami… orangtua yang lambat laun akan terus semakin rapuh dan renta.

Ada saatnya kita berpisah untuk bertemu dan mengulangi lagi perpisahan ini seperti tidak ada akhirnya, tapi itulah kehidupan yang akan kalian lalui, saat waktunya tiba, nanti giliranmu juga akan merasakan kisah mengharubiru, seperti ini, walaupun hanya sesaat, namun menjadi kenangan indah dan membanggakan. Sebagai bukti bahwa cinta kita akan terus bergelora dan selalu saling merindukan kehangatan disaat kita semua berkumpul bersama…

Selamat belajar ananda Afina, Irfan dan Shafira…. raih prestasi yang membanggakan…. buat kami terus menangis bangga dan bahagia..!

Advertisements

Inkubasi Bisnis Untuk Pensiunan 

Siang tadi kami sempatkan untuk bertemu beberapa sahabat karib, untuk membicarakan rencana acara HBH alumni Stan83 di Yogyakarta pada tanggal 22-23 Juli 2017 mendatang. Setelah materi utama beres, diskusinya mengalir simpang siur membahas berbagai masalah seolah kita sendiri gak punya masalah… ha..ha..ha… padahal di usia saat ini, hampir dipastikan kita sendiri sudah jadi masalah bagi orang lain…

Ya.. usia di atas 50tahun sudah pasti harus mempertimbangkan berbagai masalah kesehatan sampai masalah produktivitas yang makin merosot, padahal di usia emas seperti ini, banyak rekan rekan yang berada di puncak jabatan dengan pangkat dan penghidupan yang lumayan mapan. Namun pada saat yang sama, kita semakin menyadari bahwa sebentar lagi tiba waktunya untuk pensiun…

Obrolan hangat ini seakan menggugat para karyawan ini untuk mulai mempersiapkan diri menapaki karir baru sebagai pensiunan. Apalagi saat mengenang masa persiapan yang disediakan oleh perusahaan ataupun instansi dianggap kurang memadai. Umumnya persiapan hanya diberikan dalam bentuk persiapan mental dan pelatihan wirausaha yang diselenggarakan dalam waktu singkat setahun sebelum pensiun. 

Belum ada lulusan dari pelatihan semacam ini yang sukses jadi pengusaha kaya, yang ada hanya pensiunan yang beralih majikan, karena sekarang tetap harus kerja jatuh bangun melayani pelanggan yang sama menyebalkan seperti atasan mereka dahulu… hanya saja kali ini, mereka tidak ada pilihan lain…. ha..ha..ha… kalo dulu atasan bisa stress punya anak buah yang gak bisa di atur… nah sekarang  para pengusaha baru ini justru berusaha jadi anak manis agar pelanggannya tetap setia.

Sebagai business owner, budaya sebagai pengusaha tidak serta merta membawa para pensiunan langsung melejit menjadi boss besar yang bisa duduk nyaman dan main perintah sana sini, karena mereka bukan dilatih sebagai pengusaha besar, tapi dilatih untuk bersabar dan menerima kehidupan sebagai pensiunan yang harus hidup sederhana dan menjalani usaha kecil yang rawan bangkrut karena berjuang sendirian. Apalagi seorang mantan pejabat yang sudah biasa jadi bos, tiba tiba harus melayani pelanggan yang pangkatnya tidak lebih tinggi dari supirnya kala itu. 

Lantas produk latihan seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang calon pensiunan dan butuh pelatihan berapa lama agar bisa menjadi pensiunan kaya raya dan kerja ringan…?

Bisnis skala besar tidak mungkin dikerjakan sendirian karena pasti akan kekurangan modal, sementara para pensiunan itu sendirian harus berjuang menentukan pilihan investasi dan bisnisnya agar bisa mengantikan penghasilan sebelumnya, atau paling tidak bisa menambah uang pensiun yang nilainya jelas jauh lebih kecil daripada penghasilan saat masih bekerja.

Walaupun anda pernah bekerja diperusahaan/ institusi besar, berapapun uang pensiun yang anda punya hanya akan membuat anda nyaman sesaat setelah pensiun, namun tetap saja kehidupan anda akan lebih rapuh karena kesehatan semakin buruk dan produktivitas yang menurun. 

Nah berangkat dari kondisi tersebut di atas, perlu dipertimbangkan untuk membuat program pensiunan yang lebih terintegrasi dengan bisnis perusahaan. Jadi para calon pensiunan sudah dilatih dan dibimbing sebagai mitra perusahaan dan terus dibimbing selama masa inkubasi agar bisnisnya berjalan sesuai kebutuhan perusahaan. Apalagi tidak semua karyawan siap menjadi wirausahawan…. sehingga seorang karyawan yang memang kurang mampu menjadi pengusaha bisa tetap bekerja dalam sistem yang sudah dibangun sesuai profilenya. Harapannya, mereka bisa secara bertahap mengembangkan diri dengan persiapan lebih panjang  sebelum akhirnya melepaskan diri menjadi bagian dari ekosistem wirausaha yang sedang berjalan dalam inkubasi perusahaan.

Artinya, perusahaan bisa membangun bisnis inkubasi ini sebagai bagian dari vendor perusahaan yang diawaki oleh para calon pensiunan dan pada saat yang tepat para pensiunan bisa tetap berkarya sebagai sub-vendor bagi perusahan dalam bisnis inkubasi tersebut. 

Perusahaan dalam bisnis inkubasi ini sebenarnya merupakan perusahaan afiliasi, mirip dengan koperasi karyawan, tapi bisa saja bentuknya adalah koperasi pensiunan karyawan, atau bentuk lainnya yang memang di alokasikan untuk menjadi bagian dari CSR perusahaan, sebagaimana perusahaan mengembangkan UKM dan kegiatan sosial lainnya, hanya saja kali ini prosesnya melibatkan para pensiunan sebagai mitra kerja dan ujung tombak bisnisnya.

Metode ini tentu akan menguntungkan perusahaan dan karyawan yang akan pensiun, karena setidaknya perusahaan akan memperoleh vendor terpercaya dan karyawan bisa belajar mengkloning vendor sejenis dengan harga lebih murah atau kualitas layanan/produk yang lebih baik. Apalagi jika para calon pensiunan ini juga orang orang yang loyalitasnya tinggi karena mau mendedikasikan seluruh usia produktifnya bagi kepentingan perusahaan.

Perusahaan tidak perlu investasi terlalu mahal, karena perannya hanya menyediakan captive-market, agar perusahaan inkubasi ini bisa berjalan dan berkembang sesuai harapan. 

Selain ide diatas, sebenarnya bisa juga dbentuk satu komunitas pensiunan yang mengintegrasikan seluruh potensi para pensiunan dengan variasi bisnis yang kompleks, menjadi satu ekosistem bisnis yang saling menunjang, sehingga proses bisnis dari hulu ke hilir dapat saling terkait sehingga setiap orang bisa mengisi celah bisnis yang pasarnya juga captive

Tentu saja ide tersebut diatas perlu diuji kelayakannya agar bisa diterima oleh semua kalangan, sekaligus menguji komitmen para calon pensiunan dan pensiunan itu sendiri. Namun faktor suksesnya sangat tergantung pada kemampuan perusahaan menyediakan captive market bagi para wirausahawan tua yang masih perlu inkubasi agar mereka siap bertahan dan merebut pasar baru atau bahkan membantu perusahaan memenangi persaingan dengan cost leadership  tinggi karena dukungan vendor hebat yang di awaki para pensiunan dan calon pensiunan.

Lalu bagaimana kita bisa mulai mengimplentasikan ide ini…?

Bisa saja dengan membagikan tulisan inj kepada para pengambil keputusan, atau mengajak para pejabat yang sebenarnya juga sedang galau menghadapi masa pensiunnya agar mempertimbangkan untuk mendirikan koperasi pensiunan atau membuat affiliate-vendor yang di awaki oleh para pensiunan hebat.

Akhirnya hari makin sore, rasanya waktu gak berdetak… tapi kita harus pulang. Padahal Kang Dadi Budaeri, Apri Hartana, Nofel Hasan, Aris Priatno dan Hesthi Sambodo masih antusias untuk mewujudkan ide tersebut…. walaupun sebenarnya dengan sadar kita sudah mendirikan Yayasan Stan83, yang bisa menjadi inkubator bisnis dengan skala nasional dan berbagai latar belakang minat serta pengalaman. 

Satu hal yang masih menjadi ganjalan: kita semua adalah akuntan yang konservatif dan belum mampu membuka pasar sebagai pemicu bisnis yang mampu menjadi inkubator bisnis yang baik, tapi bisa membuat kebijakan dalam skala nasional karena rekan rekan kita punya pengaruh pada para pengambil keputusan.

Sebenarnya konsep ini sangat mirip dengan pendekatan Japan Incorporation yang membangun industrinya dengan membangun pabrik besar yang disupply oleh perusahaan kecil disekitarnya dengan bantuan peralatan dan pelatihan, sehingga kualitas produk menjadi standar dan kontinuitas produk terjaga.

Selain itu, semua perusahaan besar yang menerapkan pendekatan ini selalu punya keunggulan dan kekuatan untuk menyediakan produk dengan  kecepatan, harga murah, kuantitas dan kualitas sesuai standar yang diharapkan. Walaupun hal ini tidak terkait dengan pensiunan, namun konsep ini mendorong tumbuhnya iklim wirausaha yang berkembang dan menulari banyak orang untuk menjadi pengusaha…. bukan menjadi karyawan yang selalu galau  ketika menghadapi masa pensiun.

Menjadi Direktur Keuangan

Pada pertengahan tahun 2002 sampai pertengahan 2006, saya pernah diberi tugas sebagai bendahara Koperasi Telkomsel (Kisel), padahal saat itu saya tidak ada keinginan untuk mengisi jabatan tersebut, karena saat itu sebagai Pengawas Kisel, saya tahu betul kesulitan yang dihadapi oleh pengurusnya.

Pada waktu itu, baru saja 9 Kisel Regional dari seluruh Indonesia dilebur jadi satu Koperasi Nasional, dimana seluruh aset yang tersisa dan SDMnya disatukan… aset terbesarnya masih dalam bentuk piutang dan setiap bulan sudah harus membayar gaji pegawai yang begitu besar, sementara uang kas dalam keadaan defisit karena jumlah uang masuk masih lebih kecil daripada uang keluar, belum lagi sistem pembukuan masih belum seragam sehingga laporan keuangan  konsolidasi sangat terlambat.

Artinya perusahaan ini sedang sakit, dan tidak ada yang tahu obatnya karena saat itu sistem informasi keuangannya masih terlambat, sehingga keputusan penting akan sulit diambil jika informasinya terlambat.

Satu hal yang membesarkan hati saya adalah, karena saya harus mendampingi Almarhum Wiwik Widagdo dan Almarhum Dedi Sugandi yang saat itu adalah karyawan ex Telkom dengan kedudukan yang cukup berpengaruh, sehingga saya pun merasa dihargai karena bisa mendampingi seorang bos. Saat itu, rasanya bangga juga disetarakan dengan pejabat sekelas beliau, dan dari para pejabat inilah saya bisa belajar dan menyadari bahwa saya punya keunggulan komparatif dibidang keuangan, karena sistem navigasi manajemen masih relatif terbatas, dan saya harus menemukan cara untuk membuat dashboard yang menggambarkan kondisi klinis perusahaan ini.

Disini saya akan jelaskan langkah penting untuk mengelola keuangan perusahaan, untuk menghasilkan dashboard agar proses pengambilan keputusan bisa lebih tepat.

Dari kebutuhan inilah, saya menyusun COA (Chart of Account) yang bagi orang awam terlihat sederhana, namun terdapat sistematika penting yang harus dipahami, dimana setiap produk perusahasn dikelompokan dalam beberapa kategori yang spesifik, sehingga seluruh pendapatan dan biayanya bisa dikaitkan secara langsung, sesuai dengan periode pembukuannya.

Selain itu, informasi ini juga dimanfaatkan untuk menghitung normal operating cycle atau siklus normal dari setiap produk, mulai dari proses produksi, sampai produk tersebut laku dan dibayar lunas oleh oembelinya.

Begitu juga pergerakan arus kas untuk setiap produk/jasa menjadi semakin spesifik dan rinci, sehingga perputaran dan profitabilitas setiap produk/jasa bisa tergambarkan dengan jelas.

Sedangkan untuk produk baru dan sifatnya custom, akan dikelola dalam sistem pembukuan proyek, sehingga setiap proyek bisa diukur perputaran dan tingkat keuntungannya. Apabila proyek tersdbut terus berlanjut dan berkembang pesat, maka proyek tadi bisa dibuatkan kategori baru yang akan dimonitor secara sistematis dalam sistem pembukuan perusahaan.

Manfaat terbesar dari sistem pembukuan ini adalah sbb:

1. Alokasi beban overhead yang proporsional sesuai profitabilitas masing masing produk/jasa.

2. Alokasi anggaran pada produk dengan perputaran cepat dan profitabilitas memadai.

3. Memahami dan mengendalikan biaya yang terkait langsung dengan produk/jasa.

4. Mengenali titik kelemahan/hambatan administratif penyebab macetnya piutang, lambatnya perputaran persediaan  dan kelemahan operasional lainnya.

5. Membantu penetapan harga pokok produk/jasa sekaligus menjadi dasar simulasi kelayakan proyek proyek baru.

6. Memudahkan penetapan target kinerja yang mendorong semua fungsi mengejar target peningkatan pendapatan dan target penurunan biaya.

Semua itu perlu waktu sekitar 8 bulan, dengan memanfaatkan aplikasi MYOB Accounting yg sudah lebih dulu digunakan oleh Kisel Regional Jawa Timur. Aplikasi ini saya pilih karena sudah digunakan oleh salah satu Regional, sehingga lebih mudah untuk diterima oleh seluruh regional lain karena sudah ada implementasinya, dan jika diperlukan, mereka bisa belajar langsung di lapangan. Selain itu proses belajar jafi lebih pendek dan secara teknis semua pelaksana bisa berbagi pengalaman dengan mudah.

Jurus lainnya adalah mempercepat proses pembukuan dengan sedikit merubah tanggal closing setiap tanggal 25 bulan berjalan, kecuali untuk akhir tahun tetap ditutup tanggal 31. Dampaknya sangat penting, karena laporan keuangan bisa terbit tepat waktu setiap tanggal 2, dan dianalisis serta direview tanggal 10-12, selanjutnya dituangkan dalam laporan manajemen yang terbit tanggal 15 setiap bulan di meja para pejabat setingkat GM diseluruh Indonesia.

Kebijakan closing setiap tgl 25 tentu tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku, namun merupakan kebijakan praktis agar proses laporan tepat waktu. Selain itu, selisih waktu selama 5 hari hanya mempengaruhi bulan januari yang periodenya jadi lebih pendek, dan bulan desember yang periodenya jadi lebih panjang, namun secara keseluruhan dalam setahun penuh, laporan keuangan tetap sesuai prinsip akuntansi yang berlaku. Lagipula jika diaudit, tetap bisa dijelaskan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara lengkap dan wajar.

Semua upaya ini, tentu sangat membantu proses pengambilan keputusan, karena sistem administrasi sederhana tadi, bisa jadi alat navigasi manajemen untuk menentukan arah bisnis, memangkas biaya, membeli gedung baru dan bahkan menentukan saat yang tepat untuk membagikan SHU dan membayar pajak tepat waktu. Hal ini bisa dilakukan dengan mudah karena arus kas per jenis produk/jasa bisa ditampilkan dengan jelas, lalu bisa di buatkan proyeksinya berdasarkan data historis tahun sebelumnya. Keunggulan inilah yang menjadi kebanggaan saya dalam mengelola Kisel hingga penjualan terakhir saat saya bertugas bisa menembus angka 1Trilyun… dimana saat itu ketua pengurusnya adalah pak Hanes Hendri.

Kesimpulan…

Direktur keuangan harus mampu menampilkan kinerja perusahaan dalam bentuk statistik dan mampu membuat proyeksi kinerja perusahaan yang menjadi target dimasa depan.

Ketepatan waktu pelaporan, menjadi hal penting agar bisa dilakukan analisis yang memadai sebagai salah satu alarm manajemen untuk mengenali permasalahan yang terjadi ditingkat operasional perusahaan, karena laporan yang terlambat akan memberikan alarm yang terlambat juga.

Proyeksi arus kas, adalah salah satu hal penting untuk memastikan bahwa perputaran bisnis dapat terus berlangsung lancar, karena kekuatan kas perusahaan akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk merebut peluang bisnis dan memupuk aset yang produktif.

Sistem keuangan yang terbuka ternyata juga mampu menjamin integritas datanya, karena diawasi banyak orang, serta bisa menjadi alarm terhadap setiap anomali dilapangan, namun begitu ada juga kelemahannya, karena informasi ini menjadi konsumsi pesaing dan bisa disalahgunakan oleh para haters untuk merusak dari dalam.

Pada kasus ini saya mengalaminya, dimana seorang karyawan bernama PS, telah menyebar fitnah dan melaporkannya pada aparat berwajib, seolah terjadi kecurangan pajak. Walaupun hal tersebut tidak terbukti, namun begitu reputasi perusahaan jadi terganggu, apalagi aparat juga melakukan pemeriksaan terhadap seluruh pejabat yang dilaporkan, dan saya harus menangis karena perbuatan seperti ini membuat hasil kerjakeras yang berbuah baik berakhir dengan runtuhnya kepercayaan manajemen terhadap karyawan. Sejak saat itu sampai sekarang, tidak ada lagi laporan keuangan dan laporan manajemen yang bisa dibaca bebas oleh anggota Kisel, dan sistem alarm manajemen gagal merespon berbagai potensi kecurangan, dan baru mengetahuinya setelah kecurangan tersebut terjadi… sayang sekali ya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama bagi Karyawan dan Anggota Kisel agar mereka bisa belajar untuk membangun dan menjaga Kisel…..

Selain itu, saya juga berharap tulisan ini dibaca oleh para direktur keuangan, agar mereka bisa membantu mengendalikan perusahaannya, bukan malah dikendalikan oleh Dirutnya tanpa informasi yang memadai…. (sst…. kalo ini ada pengalaman lain yang akan saya ceritakan pada kesempatan berbeda).

Mengelola Uang

Saya termasuk orang pelit, terutama terhadap diri sendiri, sehingga hampir jarang belanja jika tidak diperlukan, apalagi membeli produk yang bisa kita buat sendiri.

Misalnya, saat saya membangun rumah pertama yang sekarang saya huni, saya mengerjakan sendiri pekerjaan elektrikal dan plumbing, karena dua jenis pekerjaan itu cukup mahal dan saya bisa mengerjakannya sendiri. Bahkan saya juga bisa membongkar pasang, mesin mobil, service berkala, memperbaiki dan mengecat seluruh body mobil. Saya juga bisa mengelas dan mengerjakan pekerjaan kasar lainnya. 

Itu semua saya lakukan karena saya sangat pelit jika memang bisa saya kerjakan sendiri dengan biaya jauh lebih hemat.

Sampai akhirnya saya kenal dengan seorang pensiunan pejabat yang mengajarkan saya hal baru dalam mengelola uang. Dimana seluruh penghasilan yang diperoleh, akan dibagi menjadi tiga bagian: 1. Untuk belanja kebutuhan rumah tangga; 2. Untuk sosial dan relasi; 3. Untuk tabungan dan investasi. Padahal saat itu saya hanya punya dua opsi saja, yakni untuk belanja rumah tangga dan tabungan saja. Maklum penghasilan saya dan istri saat itu (1989) hanya 1jt rupiah per bulannya. Jadi mana bisa kita bagi begitu banyaknya… apalagi buat orang lain….!? Itulah pelitnya saya.

Namun hal ini menginspirasi saya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi, karena uang itu sebenarnya selalu cukup jika kita bisa mengaturnya sejak awal. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang pembantu yang saat itu punya penghasilan hanya 60rb/bulan bisa numpang hidup dari majikan dan menafkahi keluarganya di desa, begitu juga seorang office boy (helper) yang penghasilannya hanya 100rb, juga bisa hidup sejahtera dengan 4 orang anaknya..

Inspirasi ini saya implementasikan dengan membagi penghasilan menjadi beberapa kelompok penting yakni: 

  1. Biaya operasional Suami dan Istri – karena tanpa ini kita tidak bisa menghasilkan uang lebih banyak.
  2. Biaya rumah tangga, termasuk susu, pakaian, sembako, bayar pembantu dan kebutuhan lain.
  3. Biaya pendidikan, termasuk sekolah anak dan seminar buat suami dan istri.
  4. Biaya sosial dan relasi, didalamnya termasuk zakat, infak dan sedekah.
  5. Biaya investasi dan tabungan haji

Nah setelah dibagi 5, pengaruhnya sangat dahsyat…. karena ternyata uangnya jadi sangat kecil untuk bisa benar benar dibagi 5…. ha..ha..ha.. tapi dari situlah lahir semangat untuk mencari tambahan dengan mengajar di Universitas Tarumanegara, mengerjakan pekerjaan partime dari beberapa kantor akuntan, memanfaatkan kendaraan untuk angkutan gelap yang searah dengan kantor tujuan, ditambah lagi istri saya mengajar les piano/organ…. sehingga dari sinilah penghasilan terus bertambah agak lumayan. 

Bahkan beberapa penghematan juga dilakukan, seperti mengerjakan service mobil berkala secara mandiri, memasak dan membersihkan rumah sendiri, sehingga tidak perlu banyak bayar pembantu.

Rasanya indah mengenang masa masa itu, karena uang belanja benar benar di atur agar cukup buat sebulan…. dan ada uang tabungan untuk beli rumah dan pergi haji.

Begitu besarnya semangat untuk maju, maka saya pun berpikir untuk cari pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih besar lagi. Apalagi saat itu saya sudah dapat tawaran gaji sebesar 1.3jt/bulan dari sebuah kantor akuntan kecil, namun akhirnya saya memilih kantor akuntan besar yang menawarkan penghasilan 1.9jt/bulan…. alhamdulillah… apalagi penghasilan istri yang sekitar 600rb/bln dan berbagai usaha kecil lainnya tetap jalan…

Dari semua itu, rumus pembagian tidak spesifik harus dengan proporsi tertentu, tapi menyesuaikan tingkat kenyamanan taraf hidup yang sanggup kita tanggung, sehingga semakin tinggi penghasilan, maka porsi investasi akan semakin besar… karena seluruh sisa pengasilan akan terakumulasi disana… 

Hasilnya pada tahun 1996 kita bisa membeli rumah pertama seharga 122jt dan tahun 1998 bisa berangkat ke tanah suci Mekkah… dengan biaya 10rb USD saat itu kurs Rp2.800/USD.

Bagi saya semua itu menjadi peristiwa penting yang seperti  baru terjadi kemarin saja, karena semua catatan masih lengkap dan rinci. Apalagi sekarang tambah lagi porsi untuk rekreasi dan hobi, sehingga tidak perlu lagi mengatur uang secara ketat seperti dulu…. 

Saat itu belum ada Robert Kyosaki, yang bicara soal penghasilan pasif dan cashflow quadrant... apalagi om Robert ini juga gak pernah jelas betul bisnisnya apa saja..? Tapi yang jelas bukunya laris manis menghasilkan uang banyak… saya iri juga sih…

Jadi saya juga mau belajar bikin buku…

Kita harus kaya…!

Sebenarnya rejeki memang sudah diatur Allah SWT sebagaimana disampaikan pada ayat ini: 

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Jadi Allah sudah mengatur dan memberikan rejeki kepada seluruh mahlukNya secara penuh sesuai dengan jatahnya, namun sebagian orang justru menjadi tidak produktif dengan menyandarkan diri pada takdirNya, hal inilah yang seringkali diajarkan kepada kita melalui ustad-ustad yang memang hidupnya masih berjuang mencari nafkah dan bahkan hanya melalui dakwah ini mereka memperoleh nafkahnya.

Lantas akibatnya apa? 

Tentu saja Ustad yang tidak kaya tadi tidak akan pernah mendakwahkan tentang teladan bahwa orang Islam itu harus menjadi kaya, karena para ustad itu sendiri belum cukup kaya sebagaimana yang akan mereka sampaikan, sehingga banyak ustad yang hanya mengutip ajaran untuk menyikapi sebuah kemiskinan, seperti harus pandai bersyukur, berserah diri tanpa pernah mencari solusi, dan bahkan mengandalkan belas kasihan orang lain seolah hidup itu hanya berdiam diri dan rejeki akan datang sendiri. Kisah kisah teladan yang dipilih pun diambil dari kehidupan nabi dan rasul dari kisah kehidupan mereka saat sedang miskin atau sedang mendapat cobaan. Padahal itu momen yang pendek dalam kehidupan mereka. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW saat baru hijrah, padahal sejak muda Nabi itu sangat kaya, karena mengelola bisnis pedagang kaya, Siti Khadijah, yang kelak dipersunting Nabi dengan mahar sangat mahal.

Ustad seperti ini mengajarkan pola pikir miskin kepada anak anak, seolah menjadi.miskin itu lebih mulia daripada menjadi kaya, dan orang kaya itu adalah orang yang jahat, korup dan pelit.

Padahal Rukun Islam mengajarkan kita selalu bertakwa dan bersabar, membayar zakat, bersedekah dan pergi haji, yang artinya kita harus kaya…! 

Apalagi…. para rasul dan nabi adalah mereka yang diutus oleh Allah karena mereka sudah tidak lagi berjuang mencari nafkah, tapi sudah kaya. Memang kaya disini bukan berarti hidup mewah, tapi sudah memperoleh kenyamanan hidup sehingga sanggup berkorban untuk orang lain, dan mengurus umat, selain itu teladan kita Nabi Muhammad adalah orang yang kaya loh…. karena dia pedagang dan seorang kepala negara.

Lantas kenapa saat ini ada diantara kita yang masih miskin, dan pura pura bersyukur seolah sudah kaya dan tercukupi, walau mungkin sudah bertakwa dan membayar zakat tapi belum bisa bersedekah dan berhaji…? 

Semua itu adalah akibat dari alam bawah sadar yang begitu kuat menekan keteladanan menjadi orang miskin yang bersyukur…. dan membenci uang serta takut menerima cobaan menjadi kaya, tamak dan korup. Sebaliknya, banyak orang Islam yang bertakwa, berzakat, bersedekah, berhaji dan bahkan sudah menghajikan banyak orang, serta anti korupsi disekitar kita.

Betul… mereka orang orang baik yang bisa kita tanya ilmunya menjadi kaya. Mereka menerima takdir dan berdoa untuk meningkatkan jatah rejeki yang sudah ditetapkan Allah, karena mereka bekerja produktif, mereka bergaul dalam lingkungan kaya dan mereka punya kekuatan ekonomi untuk mengajak umat muslim lainnya untuk ikut kaya dan menjadi orang baik… karena sejatinya kemiskinan itu justru lebih dekat dengan kejahatan.

Lihat saja bagaimana orang yang miskin seolah tidak punya rasa takut berbuat kejahatan atau melampiaskan penderitaannya pada orang disekitarnya dengan berbagai pelanggaran hukum, karena mereka sudah terlalu menderita sehingga tidak takut lagi untuk mengalami penderitaan lainnya.

Membuat mereka bangkit, perlu kesabaran, perlu waktu dan belum tentu ada hasil…. bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sudah terlalu lama hidup apa adanya tanpa kegiatan produktif, sehingga canggung untuk mulai bekerja… takut salah dan cenderung menunggu sebagaimana selama ini mereka lakukan… yakni menunggu takdirnya…

Membangkitkan semangat untuk produktif perlu merubah pola pikirnya agar lebih positif dalam mengejar kekayaan, juga membuat semua sadar untuk bahwa menjadi kaya tidak serta merta terjadi begitu saja, tapi ada proses panjang yang harus dilalui, perlu kesabaran dan perjuangan, ada banyak rintangan dan penderitaan tapi semua itu sangat layak dan patut untuk dilalui karena kita akan sampai pada satu tujuan yakni KITA HARUS KAYA…!

Semoga tulisan saya bisa menjadi masukan bagi para Ustad agar berusaha untuk kaya dan mengajarkan ilmu menjadi orang kaya. Bagi yang belum kaya, tentu bisa belajar dari Ustad lain yang sudah lebih dulu kaya….

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan, tulisan ini hanya merupakan harapan saya untuk membangun semangat wirausaha bagi semua orang termasuk para Ustad….

Salam….

Pensiunan bangkrut…!

Judul artikel kali ini bernada gusar… 

Sebenarnya banyak para pensiunan yang memang gusar menghadapi masa pensiun, apalagi anak masih sekolah dan butuh biaya besar. Ada juga mereka yang menutupi perasaannya dengan mencoba berpikir positif dengan bersyukur dan secara sadar mencoba berdamai dengan kenyataan. Tentu saja hal ini jauh lebih baik karena bisa membantu kesehatan jiwa dan pada akhirnya tubuh juga tetap sehat lebih lama daripada terus mengeluh dan akhirnya sakit berkepanjangan menghabiskan harta dan tabungan. 

Hidup itu singkat, setelah usia produktif kita habiskan mengabdi pada perusahaan besar yang selama ini kita puja, ternyata penghargaan mereka hanya sampai pada uang pesangon saja… dan sekali kali diundang dalam acara ultah perusahaan… miris ya….? Tidaklah… itu belum seberapa… karena setelah itu semua teman baik dan mantan anak buah yang dulunya dekat… belum tentu membantu kita… paling banter nanti kirim ucapan dukacita saat kita wafat .. inna lillahi wa innailaihi rojiuun…

Nah… buat sahabat yang akan pensiun atau sudah pensiun… gak usah cemas, karena sebenarnya semua orang bisa membangkitkan ekonomi rumahtangganya melalui berbagai cara yang mudah dan murah, karena saya sendiri pernah mencoba berwirausaha dan bisa menghasilkan uang berlimpah asalkan mau turun tangan dilapangan sebagai manajer operasional… karena semua bisnis, bisa jalan lancar dan menghasilkan karena ada yang mengurusnya…. dan semua bisnis juga akan bangkrut jika tidak ada yang urus…!

Begitu juga hidup anda akan bangkrut jika anda malas merawat kehidupan ini.

Darimana kita bisa mulai…?

1. Membuat bisnis model 

Coba kenali minat dan kelebihan yang kita punya. Buat daftar keunggulan komparatif dan aset apa saja yang sudah kita miliki. Banyak orang yang punya hobi, mulai dari olahraga, memelihara hewan, fotografi dan bahkan memasak. Apapun itu, tanyakan juga keahlian pasangan hidup kita, anak atau keluarga yang sedang menganggur atau bahkan tetangga disekitar kita yang masih susah hidupnya… coba ajak semuanya bicara tentang harapan dan kemampuan atau aset yang mereka punya… dari situ anda bisa menjadi manajer operasional yang hebat dengan cara membuat sebuah bisnis model skala kecil untuk merekatkan semua keahlian dan aset yang ada menjadi sebuah bisnis. Yaa… bisnis yang serius itu selalu dimulai dari hal hal kecil semacam ini.

2. Membuat proyeksi arus kas

Latar belakang kekuatan semua bisnis ada pada arus kas mereka. Modal kerja paling berharga justru bukan uang, tapi manusia…! Ya… setiap manusia punya tenaga dan akal untuk mengelola bisnis. Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, dan uang tidak bisa berkembang tanpa manajer operasional yang hebat seperti anda. Manajer yang hebat harus belajar membuat proyeksi arus kas, karena hal ini akan meningkatkan kecerdasan finansial anda. Jika anda belum bisa membuatnya, anda bisa mencari mentor dan belajar membuatnya.

Proyeksi arus kas operasional itu penting karena akan menentukan keputusan anda dalam menentukan pengeluaran yang produktif dan membuat produk/jasa yang profitabel.

Cara membuatnya pun sangat sederhana, tinggal membuat rincian produk/jasa apa yang akan anda hasilkan, berapa banyak, berapa harganya dan berapa lama siklus normalnya (mulai dari awal proses produksi sampai uang diterima tunai). Langkah berikutnya adalah membuat rincian biaya apa saja yang harus disiapkan, mulai dari bahan baku, peralatan, tenaga kerja, sewa dan seluruh biaya lain yang terkait dengan proses produksinya. Sementara itu jangan lupa memperhitungkan penyusutan alat produksi dan biaya operasional lain ya g tidak secara langsung terkait dengan proses produksi.

Setelah rincian tersebut di atas lengkap, lalu buat analisisnya dalam urutan Kas Awal + Pendapatan – Biaya = Kas Akhir, lalu disusun dalam periode bulanan (bisa juga mingguan atau harian, tergantung kebutuhan).

Setelah itu anda bisa lihat kapan Kas Akhir itu positif atau negatif, nah disitu anda akan menentukan sumber dana atau solusi apa untuk membuat Kas Akhir selalu positif. Banyak orang melihat Kas Akhir yang negatif sebagai kekurangan modal kerja, padahal banyak komponen biaya yang bisa di tekan lebih rendah, atau harga penjualan yang kurang tinggi. Bisa juga penyebabnya adalah volume penjualan yang rendah, sehingga harus mampu menjual lebih banyak produk.

Melalui simulasi semacam ini, kita akan belajar mengoperasikan bisnis dengan kecerdasan finansial yang baik, dan menghindari kegagalan melalui proses simulasi yang tepat sehingga sistem operasional bisnis yang berjalan bisa memberikan alert sebelum terjadi kerugian yang besar. Apalagi simulasi semacam ini akan mengasah kejelian para manajer operasional dalam menemukan solusinya menggunakan informasi yang tepat.

3. Kolaborasi menggabungkan kekuatan

Setiap individu, punya keunggulan masing masing, namun keunggulan tadi tidak ada manfaatnya jika tidak digunakan. Jika anda bekerja sendirian, tentu saja akan bisa, namun jika bekerja secara kolaboratif, anda akan punya kekuatan besar untuk saling berbagi manfaat dan menjadi kekuatan sesuai dengan skala ekonomi yang mampu di kembangkan secara kolaboratif.

Ingat… jika anda pensiunan, berarti hanya punya keahlian terbatas pada satu bidang pengetahuan saja, tapi jika anda bekerja dalam sebuah sistem, maka kolaborasi tadi akan jadi kekuatan besar yang hebat.

Kesimpulan….

Anda tidak mungkin bangkrut, hanya karena sudah pensiun. Mungkin tidak sehebat dulu, karena masih punya banyak fasilitas perusahaan, tapi anda bisa bangkit sebagai sebuah kekuatan jika anda bekerja kolaboratif dengan semua kekuatan yang ada disekitar anda, melibatkan keluarga, tetangga, komunitas dan bahkan anda bisa menjadi kekuatan ekonomi yang besar jika mau. Bukan mustahil anda jadi lebih bahagia dan lebih sukses lagi….

Semoga bermanfaat.

Apakah saya bisa sukses berwirausaha…?

Pertanyaan seperti itu muncul dari benak setiap orang, apalagi ketika melihat kerabat atau kawan dekat sudah punya taraf hidup yang lebih baik. Ya.. taraf hidup lebih baik itu jadi ukuran sukses buat semua orang, apalagi kalo punya rumah, mobil dan gaya hidup mewah. 

Padahal belum tentu mereka benar benar kaya… sebagaimana tampilannya. Banyak yang tampilan parlente tapi dompetnya tipiis…. dan sebaliknya… ada yang tampilannya sederhana tapi hartanya berlimpah. 

Disini saya akan memberikan jawaban atas pertanyaan pada judul artikel ini, bukan membahas gaya hidup ya. Ayo kita mulai dengan pola pikir orang sukses yang umumnya memang gigih, mudah bergaul dan selalu punya rencana dan tujuan hidup yang jelas, karena semua orang sukses itu justru sering gagal dan selalu bangkit untuk terus mencoba. Bahkan mereka juga selalu haus akan ilmu dan bergaul dan berguru pada banyak orang yang dianggap punya solusi atas permasalahannya. Ya… setiap perjalanan menuju sukses itu tidak ada yang mulus, akibatnya orang sukses harus terus belajar dan berguru agar bisa lebih cepat belajar dan menghindari kegagalan yang sudah pernah di alami oleh orang lain.

Bahkan untuk mengawali sukses itu juga bukan dari latar belakang pendidikan, bukan dari modal harta, dan bukan juga dari keturunan, karena semua orang sukses itu punya latar belakang berbeda beda…. jadi siapa saja bisa sukses dan kaya… 

Sampai disini, sebenarnya sudah terjawab, bahwa semua orang bisa sukses jika mereka merencanakan dan memilih untuk sukses dengan segala konsekuensi dan pengorbanannya.

Apa saja yang perlu dilakukan untuk memulai langkah sukses…? Sebenarnya banyak sekali buku buku dan video tutorial untuk sukses, jadi tinggal baca dan menyimak saja sebenarnya cukup. Masalahnya adalah, bagaimana mempraktekan sukses itu dalam keseharian kita…?

Sesuai pengalaman saya, salah satunya adalah mencari mentor, yakni orang sukses yang akan membimbing kita untuk memulai langkah pertama. Namun sebelum kita menentukan mentor tersebut, kita harus bisa membuka diri untuk menerima saran dan masukan… jika kita masih merasa bisa dan sering berpolemik dalam setiap diskusi, tentu sulit untuk menerima saran dan masukan dari orang lain. Contoh sederhananya, kita sudah sering mendengar nasihat motivator bisnis  yang sangat bagus, sehingga kita kutip dalam wall-status di medsos agar bisa kita ingat. Namun ternyata hal itu tetap tidak merubah nasib kita…. lalu salahnya dimana…? Tentu saja semua saran yang baik dan normatif itu tidak akan terjadi jika kita tidak membuka diri dan mempraktekkan apa yang disarankan.

Jadi memilih mentor itu penting dan pola pikir kita harus terbuka untuk belajar menerima saran dan masukan dari para mentor….

Dimana kita memperoleh mentor…?  

Saat ini, jutaan informasi tersebar luas di internet untuk belajar dan diskusi dengan seorang yang kita pilih sebagai mentor. Jika anda tertarik untuk suatu bidang ilmu, tentu dengan mudah cari komunitasnya, lalu datangi orang yang dianggap menguasai materinya dan lanjutkan dengan pertemuan yang lebih intensif, maka dengan mudah kita sudah memperoleh mentor pilihan kita. Mentor yang baik, tentu mereka yang senang berbagi pengalaman dan ilmu…  dan cari mentor lain jika diperlukan, sehingga pengetahuan kita akan semakin luas dan berkembang.

Mentor itu seperti teman bergaul, jadi pilih mentor yang benar benar sukses pada bidangnya, karena mereka yang sudah sukses dan kaya, akan senang membantu secara gratis, karena mereka juga perlu mitra dan pada waktunya nanti mereka juga punya rencana sendiri untuk berkembang bersama mitranya.

Jika kita belum puas dengan satu mentor, cari mentor lain, karena mereka akan jadi network kita dalam meniti sukses secara bersama sama. Langkah selanjutnya akan lebih mudah karena bimbingan mentor, karena mentor itu juga ingin punya jaringan orang orang sukses disekitarnya agar mereka bisa terus mempertahankan kesuksesannya.

Syarat penting lainnya dalam meniti proses sukses adalah kegigihan, karena kegigihan butuh kesabaran dan energi agar mampu bertahan menghadapi setiap kegagalan…. jadi harus kita sadari bahwa sukses itu tidak ada yang mudah dan berjalan mulus.

Mengingat kegagalan itu adalah bagian dari proses, maka siapkan enegi dan sumber daya yang ada untuk menghadapi risiko kegagalan. Risiko ini relatif besar, sehingga harus kita antisipasi dengan mempersiapkan langkah penanggulangan yang tepat. Disini peran mentor sangat penting.

Langkah berikutnya adalah membuat dokumentasi yang memadai agar setiap proses yang kita kerjakan bisa di analisis secara cermat. Bisa saja, bentuknya berupa catatan sederhana, yang penting informasinya harus menggambarkan uang masuk dan uang keluar (arus kas) karena segala bentuk wirausaha, perlu manajemen arus kas yang baik. Semua catatan yang terkait arus kas akan menjadi dasar analisis yang baik jika lengkap dan terinci.

Pada sebuah kasus, saya pernah mendapat tugas memimpin perusahaan menengah dengan omset ratusan milyar, lalu dalam 4 tahun mampu meraih omset 1.2Triyun saat saya selesai bertugas… dan saat ini terus tumbuh mencapai 4 Triyun setelah 10 tahu saya tinggalkan.

Disini saya akan ceritakan langkah awal membangun sistem administrasi yang baik. Dimana semua informasi bisnis dikelompokan dalam beberapa kategori sesuai dengan jenis bisnisnya. Atas dasar kategori atau kelompok bisnis tersebut, hasil penjualan dan biaya yang relevan dikaitkan langsung, sehingga masing masing kelompok bisnis tersebut bisa terlihat profitabilitasnya. Selain itu, laporan keuangan harus tepat waktu, dan tidak boleh ada penundaan dalam proses pencatatannya agar informasinya bisa digunakan tepat waktu. Informasi yang terpenting adalah penerbitan invoice yang segera setelah pekerjaan selesai, dan dengan demikian bisa segera ditagihkan pembayarannya pada minggu berikutnya, karena hal ini akan sangat mempengaruhi kas masuk.

Sebaliknya, dari sisi pengeluaran, tidak ada uang muka yang lebih dari sehari, dan setiap pengeluaran yang berulang dan sejenis akan dibuatkan kontrak sehingga pembayaran bisa ditunda setidaknya sebulan, karena hal ini menguntungkan arus kas keluar bisa ditunda sampai ada arus kas masuk.

Faktor penting lain dalam pengelolaan bisnis dengan jenis produk yang bervariasi adalah, analisis kinerja masing masing jenis produk tersebut, karena setiap jenis produk punya pola perputaran arus kas serta profitabilitas yang berbeda.

Untuk produk yang butuh modal.kerja besar dengan margin laba yang rendah namun berputar dalam hitungan minggu, sehingga setiap bulan mampu memberikan kontribusi arus masuk kas yang besar, dan sebaliknya ada juga produk yang perputarannya relatif lambat bahkan baru memberikan keuntungan setelah 3tahun, padahal perlu modal kerja besar diawal kontrak.

Dari pola perputaran bisnisnya, tentu saja kita akan memilih produk yang profitable dan perputarannya cepat, karena akan menjamin kas masuk lebih cepat. Produk lain bisa di alihkan kepada pihak lain atau tetap dipertahankan dengan volume yang kecil saja.
Untuk perusahaan besar memang terkesan rumit namun biasanya punya dukungan sistem informasi yang memadai, sedangkan untuk perusahaan kecil, apalagi perorangan, tentu lebih sederhana dan seharusnya lebih mudah karena pemilik usaha adalah juga pelaku usahanya… alias self-employed, namun justru biasanya sulit menjaga disiplin pencatatan arus kas sederhananya. Gejala sistem administrasi yang gagal, terlihat dari keseharian yang selalu kesulitan uang padahal penjualannya relatif bagus dan lancar setiap hari.

Oleh karena itu sistem administrasi pencatatan keuangan sangat penting untuk disiapkan secara terinci agar mudah di analisis dan bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, terutama untuk memilih produk/jasa yang profitable dan mengendalikan biaya produksinya.

Nah untuk memudahkan, saya rangkum saja tulisan diatas dalam poin berikut ini:

1. Sukses itu milik siapa saja, dan untuk meraihnya, perlu kegigihan, dan perlu mentor yang akan menjadi sumber inspirasi dan tempat belajar paling mudah tanpa harus melalui kesulitam yang dulu pernah dialami oleh mentornya.

2. Dokumentasi itu penting, karena memberikan informasi mendasar terkait arus kas, dan proses analisis hanya bisa terjadi jika administrasinya tertib dan tepat waktu, sehingga bisa membantu proses pengambilan keputusan.

3. Kecerdasan finansial sangat penting agar bisa menjaga arus kas melalui percepatan arus kas masuk yang lebih besar dan penundaan arus kas keluar yang lebih kecil. Semakin baik arus kas masuk, maka semakin besar peluang investasi pada produk/jasa yang profitabilitasnya tinggi.

Demikian sedikit catatan saya untuk mereka yang ingin meraih sukses dengan segala konsekuensinya untuk