Dasar-dasar fotografi

Aperture – semua fotografer mestinya sudah tahu apa itu aperture (bukaan diafragma), jadi saya tidak perlu menjelaskan lebih rinci, namun untuk menyederhanakannya saya Cuma bisa memberikan analogi, bahwa aperture berfungsi sebagai katup yang membatasi jumlah sinar yang bisa menembus lensa menuju sensor. Jika jumlah sinar yang dibutuhkan sedikit, maka gunakan apertur terbesar, begitu juga sebaliknya.

Efek aperture terhadap gambar, adalah DOF (Deep Of Field – ruang tajam) atau ruang tajam, dimana semakin besar satuan aperture, maka semakin luas ruang tajam yang diperoleh (juga sebaliknya). Contoh; Jika kita memotret sepuluh deretan pohon berurutan menjauh dimana yang terdekat di beri nomor 1, maka dengan f/stop 32 dihasilkan ruang tajam dari jarak terdekat sampai terjauh, jadi dari deret pertama sampai pohon ke sepuluh, semuanya tampil tajam di foto. Sedangkan jika menggunakan f/stop 2.8, dan fokus di arahkan ke pohon nomor 3, maka hanya pohon tersebut yang terlihat tajam, sementara pohon lainnya terlihat blur.

Contoh ruang tajam

ruang tajam

Untuk mengetahui seberapa luasnya ruang tajam yang dihasilkan setiap lensa dengan focal lenght dengan aperture berbeda, anda bisa mengujinya dengan melihat tabel ruang tajam di situs ini :
http://www.dofmaster.com/doftable.html
atau di situs yang lain disini :
http://www.erkkivanninen.net/ev/valok/doftab_en.html
dengan mempelajari kemampuan ruang tajam pada lensa yang anda miliki, maka anda bisa mengatur komposisi dengan baik, agar POInya bisa masuk ruang tajam tersebut.

Kecepatan Rana

settingkecepatan rana

Speed – kecepatan gerakan rana, atau shutter, ditujukan untuk memberikan kesempatan lamanya sinar tersebut “membakar” sensor. Semakin lama sensor tersebut “dibakar” maka semakin panas dan menyala menjadikan gambar menjadi lebih terang. Tapi makin cepat sinar tersebut di tutup, maka semakin gelap gambar yang di hasilkan. Kecepatan shutter, sangat dibutuhkan manakala kita ingin membekukan gerakan cepat sebuah peluru yang menembul apel, misalnya. Namun saat memotret romantisnya jembatan ampera di malam hari, maka shutter atau rana harus dibuka lebih lama agar sinar dapat membakar dan melukis keindahan lampu temaram di sekitar jembatan tersebut. Jika foto anda buram, bisa jadi disebabkan karena shutter kamera anda di set terlalu lambat, sehingga gerakan subjek foto maupun goyangan kamera yang anda genggam, mengakibatkan foto menjadi buram. Jadi pastikan anda memilih kecepatan yang cukup, agar foto tetap tajam, kecuali memang ingin mendapatkan efek dinamis akibat gerakan subjek atau kamera anda. Misalnya foto panning, yang menggunakan kecepatan shutter atau rana yang lambat, agar subjek terlihat lebih menonjol dari latar belakangnya yang blur.

seting kepekaan filem/sensor

gunakan setting ISO/ASA yang tepat

Iso – Mengenai artinya apa itu ISO, silahkan browsing sendiri di internet, toh sudah banyak yang membahasnya, bahkan ada istilah lain dari itu, silahkan saja di pelajari. Disini saya hanya akan menyampaikan fungsi iso tersebut adalah untuk menentukan tingkat kepekaan sensor tersebut terhadap sinar yang diterimanya. Semakin tinggi iso yang digunakan, maka akan semakin peka sensor kamera menerima sinar, artinya dengan kepekaan yang lebih tinggi maka efek yang diperoleh adalah kemampuan kamera untuk memotret dan membekukan gerakan penari di panggung yang temaram. Cara kerja ISO pada kamera digital sebenarnya bukan sensor digitalnya yang lebih peka, tapi cahaya yang diterima oleh sensor digital di perkuat oleh prosesor kamera, agar sinar lemah jadi tampil cerah. Efeknya tentu saja membuat warna menjadi lebih pucat, dan muncul bintik-bintik noise atau grain yang muncul akibat proses amplifikasi yang dilakukan prosesor terhadap informasi data digital yang diterima sensor. Jadi boleh dibilang dampak lain dari penggunaan iso yang lebih tinggi, adalah munculnya noise, atau butiran pasir yang merusak kontras warna maupun detil gambar, sehingga fotografer yang ingin gambarnya tajam, selalu menghindari penggunaan iso tinggi, apalagi fotografer landscape, pasti akan menggunakan iso paling rendah yang bisa di capai sebuah lensa.


Programmed, Aperture Priority, Speed Priority, and Manual

Otomatisasi pada kamera


PASM – Programmed, Aperture, Speed, Manual. Sebuah istilah yang muncul sejak fotografi mulai mengalami otomatisasi, dimana pada badan kamera di tanamkan prosesor yang mampu “berpikir” untuk menentukan ramuan ASI (Apertur+Speed+Iso) yang tepat agar foto terlihat cerah. Kemampuan ini, setidaknya membantu fotografer yang tidak ingin terlalu repot merubah parameter tersebut secara manual. Penjelasan tentang ini dapat dirinci sbb;

  • Programmed – fotografer Cuma memilih subjek foto, mencari titik fokus, dan langsung menekan tombol shutter, sementara itu kamera secara otomatis mencari ramuan ASI yang tepat, agar foto yang di hasilkan tampil cerah.
  • Aperture – jika mode ini dipilih, maka fotografer berhak menentukan besaran Aperture yang diinginkan, dan kamera punya kewajiban memilih secara otomatis S+I yang paling cocok agar foto yang dihasilkan tampil cerah.
  • Speed – mode ini, memberikan kesempatan bagi fotografer untuk menentukan kecepatan yang diinginkan, dan kamera akan menyesuaikan A+I yang tepat agar hasil foto tampil cerah.
  • Manual – mode ini menyerahkan segala tanggungjawab pemilihan setting sepenuhnya kepada sang fotografer, dan kamera tidak bertanggungjawab pada hasil apapun yang diperoleh saat tombol shutter ditekan.

Pertanyaannya??, kenapa tidak ada mode “I” (Iso – priority)…..? Ternyata, iso hanya dapat disetting secara manual, dan pemilihan mode otomatis baru saja muncul pada teknologi kamera yang diluncurkan mulai tahun 2006, CMIIW. Jadi untuk kamera generasi sekarang, sudah bisa memotret secara serba otomatis, contohnya kamera panasonic FZ18, Nikon D3,  Nikon D70s, Nikon D90, Nikon D700 dan juga Canon 40D, 5Dm3, 1Dm3, dst… sekarang sudah bisa memotret dengan mode iA (inteligence Auto) dimana semua setting, bekerja otomatis menyesuaikan kondisi alamiah yang ada, dan memilih gabungan setting terbaik yang bisa diperoleh saat itu. Jadi jelas jika kamera generasi masa kini, sudah dibuat sangat mudah dan kemampuan ISO yang dimilikinya pun sudah sangat tinggi dengan noise yang juga relatif rendah, serta dynamic range yang baik.

Nah jadi sekarang jelas kan, bahwa memotret itu mudah, murah dan menyenangkan. Buat yang masih penasaran untuk belajar fotografi bisa mulai baca-baca artikel di rumah PICS.

Mau baca artikel ini dalam hape android kamu?

coba download dari android market atau yang sekarang berganti nama jadi “Play Store”  search kata kunci “fotografer hebat” lalu klik install, pasti bacanya makin seru…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s