Cara Saya Memandang Bisnis Durian

Pada awalnya saya samasekali tidak tertarik untuk bisnis dibidang pertanian, karena memang saya dibesarkan bukan oleh petani. Semasa hidupnya kakek saya sebagai kepala desa Cilongok, adalah juga seorang petani, namun bukan berarti saya harus jadi petani, apalagi ayah saya saja pergi merantau meninggalkan desanya hanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sebagai buktinya, ayah saya akhirnya berhasil dan selalu berpesan kepada saya untuk membangun desa leluhur, dan sampai menjelang wafatnya, ayah saya bahkan ingin dimakamkan di kampung halaman, dan mewariskan seluruh tanah pertanian dan kebun yang tersebar, kepada anak-anaknya. Padahal semua anaknya tidak ada yang berniat jadi petani, termasuk saya.

Pada awal tahun 2009, saya harus pulang kedesa untuk memakamkan kedua almarhum orang tua saya di desa buniwah, kec. Bojong, kab. Tegal sebagaimana amanat almarhum kepada kami, dalam kesedihan saya sudah tidak lagi memikirkan bagaimana cara mengelola warisan mereka di desa-desa sekitar makamnya. Lebih dari tiga tahun pertama semua tanah almarhum di urus oleh para petani penggarap, dan belum pernah kami urus sama sekali, kami anak-anaknya hanya mendapatkan sedikit penghasilan dari tanah-tanah tersebut, dan nilainya juga tidak cukup menarik bagi saya untuk menjadikan bidang bisnis pertanian sebagai tumpuan hidup.

Sejak tahun 2012, ada sedikit keinginan untuk belajar tentang pertanian, karena saya membayangkan bahwa pada tahun 2020 saya akan pensiun, berarti tinggal 8 tahun lagi..!! dan saya sendiri sudah siap untuk pensiun tanpa harus tergantung pada dunia pertanian. Apalagi, sebenarnya saya sendiri sudah memikirkan untuk persiapan pensiun sepanjang hidup saya, karena saya takut MISKIN, apalagi di hari tua nanti, tubuh kita akan semakin renta dan sakit-sakitan… nah berangkat dari pemikiran itu, saya melihat bahwa kehidupan di dunia pertanian lebih banyak aktivitas fisik dan bersentuhan langsung dengan alam, apalagi masyarakat desa sangat bersahabat secara sosial. Semua itu membuat saya merasa ingin kembali ke alam dan menjadi bagian dari lingkungan pedesaan dimana leluhur saya berasal, agar saya bisa hidup sehat dalam lingkungan yang nyaman.
Pada pertengahan tahun 2013, saya mulai berkenalan dengan berbagai komunitas yang terkait dengan pertanian, dan saya melihat ada yang unik dalam industri ini, dimana negara kita yang agraris, ternyata banyak mengimpor produk pertanian dari negara lain, dan desa kita mulai di tinggalkan oleh masyarakatnya karena tidak menarik untuk hidup menjadi petani. Berangkat dari berbagai diskusi, ternyata pertanian juga menarik dan cukup menghasilkan jika dikelola dengan baik.

Awal 2014, saya menemukan sebuah eksotisme dalam buah Durian, karena ternyata ada komunitas Masyarakat Durian Indonesia yang telah membuat buat durian menjadi sebuah gaya hidup, dimana setiap penggemarnya akan memamerkan bagaimana foto-foto mereka saat menyantap durian, lengkap dengan penjelasan tentang rasanya, bibitnya sampai kebun dan harga durian yang mereka makan. Saya sendiri sebenarnya suka dengan durian sejak kecil, tetapi karena harganya mahal, maka saya tidak pernah membelinya, hingga saya mulai tertarik ketika saya mengajak teman-teman saya untuk “Kenduren”, istilah kami untuk makan durian bersama, telah membuat kegiatan ini menjadi perekat bagi kami untuk senantiasa berkumpul dan mempererat tali silaturahmi. Bahkan lebih dari sekedar kumpul bersama teman, saya mulai tertarik untuk membeli bibit durian, mulai dari Musangking, Pelangi, Bawor, Ketan dan Sumber, masing masing 2 batang, yang dibeli dari dua pembibit yang berbeda. Saat membelinya, saya mencoba tanya-tanya mengenai harga bibit jika dibeli dalam jumlah banyak dan bagaimana cara membuat kebun durian. Disamping itu saya juga berkelana di dunia maya untuk mencari informasi yang terkait durian, dan mengumpulkannya dalam buku ini, sambil belajar tentunya.

Dari sinilah, saya di undang dalam sebuah group WhatsApps, dan mulai berinteraksi dengan para pembibit dan pakar durian. Senang juga jadi tahu berbagai jenis durian, dan bahkan beberapa rekan sudah mengirimkan durian mereka langsung kerumah saya, mulai dari durian lokal batang, durian musangking, durian karantongan dari kalimantan, dan juga durian matahari. Kehangatan ini makin saya rasakan ketika, saya membeli 500 bibit musangking yang rencananya saya kembangkan hanya di desa Cilongok, sebagai awal dari konsep bisnis kebun durian, dimana untuk panen durian tidak harus punya kebun, tetapi jadikan sebuah desa menjadi sentra durian, dari mulai membuat bibit, menyiapkan bibit, menanam, merawat dan meningkatkan produksi buahnya. Jadi saya akan membagikan 300 bibit durian kepada petani, dan sisanya akan saya tanam dilingkungan umum, dan sebagian lagi di tanah dan kebun warisan ayah saya.

Mengapa memilih sebuah desa, karena mereka adalah petani yang sesungguhnya, dan mengerti tentang bagaimana berkebun. Petani hanya membutuhkan dukungan dari orang kota seperti saya untuk mendapatkan bibit unggul, dan menanamnya dengan baik, sampai saatnya nanti berbuah dalam kurun waktu 4-7tahun.

Tanggal 29 Maret 2014, merupakan tonggak sejarah bagi saya untuk memulainya dari desa Cilongok, sebagai desa dimana leluhur saya berasal. Target berikutnya adalah desa-desa sekitarnya, mulai dari Desa Danasari, Desa Tembongwah, Desa Karangjambu, dan desa Buniwah, dan akan terus meluas jika konsep bisnisnya berjalan lancar.

Tahun 2020 nanti, dimana saya sudah pensiun, saya akan tetap tinggal dijakarta, namun saya akan lebih sering berkunjung ke kampung halaman terutama saat panen raya durian, dimana harga durian unggul akan sangat menarik bagi petani dan bisa menjadi penghasilan baru bagi petani.
Peran saya disini, hanya untuk memikirkan proses pemasaran, pengawetan, pengolahan dan pengemasannya menjadi produk derivatif dari berbagai jenis durian yang tersebar di seantero kampung halaman saya. Tidak ada kewajiban atau beban bagi petani untuk menjual produknya kepada saya, jadi mereka bebas menjual kemana saja sesuai dengan harga yang mereka inginkan. Saya sendiri akan membeli produksi mereka untuk di olah menjadi produk kemasasan dan menjadikan kawasan kampung halaman saya sebagai sentra durian terbaik dan terunggul di jawa tengah dan dunia…. Jika umur dan kesehatan saya masih mendukung.

Doakan saja kawan….

Advertisements

5 thoughts on “Cara Saya Memandang Bisnis Durian

  1. Soerianto Kusnowirjono

    Salut untuk Pak Heru yang mempunyai impian yang realistis untuk membantu masyarakat di desa karena demikian juga yang saya lihat di berbagai daerah dimana ada potensi pengembangan tanaman durian dimana banyak lahan menganggur karena keterbatasan dari petani/pemilik lahan serta pasar yang jelas. Saya mempunyai ide yang sama dan berkeinginan untuk melakukan hal yang sama seperti memberikan bibit gratis kepada masyarakat bibit durian unggul menurut saya di daerah penghasl durian tersebut. Saya ingin mengajak petani durian mengembangkan durian lokal sehingga durian2 yang enak bisa dinikmati oleh banyak orang sampai ke kota besar sehingga durian lokal kita dikenal dalam negeri daripada durian impor. Pertanian juga merupakan aktifitas saya dimasa pensiun saya yang pasti akan saya nikmati apabila saya mulai mempersiapkan lahan pertanian tersebut bersama masyarakat daerah.

    Reply
    1. herusidik Post author

      Konsep usahanya lebih untuk keperluan aktivitas sosial saja pak, kalo untuk murni bisnis, skala produksinya belum optimal, jadi tidak cocok untuk tumpuan hidup dikota besar…

      Kalo sekedar buat makan dan hidup sederhana, tentu saja sangat berkecukupan.

      Reply
  2. Slamet irawan

    wah secara tidak sengaja saya menemukan tulisan ini…saya antusias membacanya karena saya juga putra cilongok yang merantau di jakarta, salut saya untuk Pak Heru….yang sudah memberikan sumbangsih untuk warga cilongok..semoga ke depan nya bapak sukses dan sehat terus untuk membimbing masyarakat cilongok lebih maju lagi.

    salam,

    slamet irawan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s