Politik yang Membuat Rakyat Sejahtera

Gonjang ganjing politik membuat saya merasa sedih, banyak sekali saudara saudara saya yang menghakimi rekan-rekannya karena mereka berbeda pendapat. Para politikus telah berhasil membangun konstituennya masing-masing dengan cara-cara praktis, terlepas dari kualitas partai itu sendiri, banyaknya populasi masyarakat muslim di Indonesia, mendorong mereka melakukan berbagai cara untuk mengambil hati rakyat dengan memanfaatkan pendekatan agama. Tentu saja cara ini sangat dibolehkan, karena Islam juga menyarankan pemeluknya untuk ikut berpolitik melalui Masjid yang merupakan simbol pemersatu umat, hanya saja sekarang para politikus tidak boleh menyuarakan soal politik di dalam ruang ruang ibadah, walaupun para ulama tidak segan untuk menyampaikan khotbah politiknya, begitu pula yang terjadi di tempat ibadah agama lainnya.

Namun jika melihat para ulama yang berdakwah dengan menghujat orang lain, saya jadi merasa ikut berdosa. Dalam posisi ini, saya merasakan bahwa diam adalah emas, namun tetap saja saya merasakan kegundahan karena rekan rekan dekat yang tergabung dalam medsos, banyak yang berselisih paham, bahkan saling un-friend atau left-group karena tidak tahan akan hujatan dan kalimat kalimat yang menyudutkan. Mereka tidak kalah, tapi menghindari polemik dan diskusi yang tidak bermanfaat. Banyak politikus yang terlihat sholeh dan alim, tapi kalimatnya bersumber dari informasi yang tidak akurat, bisa saja hal itu menjadi fitnah, dan bahkan bisa berdampak pada kesejahteraan rakyat. Loh…!!!?? Apa hubungannya..??

Begini, beberapa politikus sering membangun isu, dan melanjutkannya melalui forum demo dan mendesak bahkan memancing pemerintah untuk melakukan langkah yang salah. Contoh: Mengancam demo besar besaran atas nama Islam, membuat gerakan tarik dana tunai dari perbankan, dsb.

Jika kita ambil contoh: menarik dana tunai diperbankan, apakah ini pilihan bijak, tentu saja akan sangat baik jika gerakan ini bertujuan untuk menggunakan uang tadi untuk kegiatan produktif, namun apa dampaknya jika uangnya disimpan di celengan, atau bahkan digunakan untuk kegiatan non produktif dan bahkan destruktif…? (bukan mustahil uangnya digunakan untuk membiayai demo yang menghabiskan waktu dan tenaga, tapi tidak ada manfaatnya buat orang banyak. Apalagi jika uangnya buat beli bahan peledak atau amunisi untuk membunuh orang).

Ya… begitulah kenyataannya, sudah ada korban bom di Samarinda, padahal untuk membuat bomnya saja, perlu uang, belum lagi kerusakan dan penderitaan korbannya yang juga perlu uang untuk pemulihannya. Jika uang untuk membuat bom digunakan untuk modal wirausaha, mungkin hasilnya bisa membuat makmur orang sekitarnya, begitu juga uang yang habis untuk perawatan korban dan perbaikan bangunan yang rusak, bisa lebih bermanfaat jika digunakan untuk mengembangkan usaha.

Namun begitu, kita semua gak usah kuatir dengan adanya ajakan untuk menarik uang dari perbankan, sebenarnya ajakan ini ada bagusnya juga. Anggap saja kegiatan ini mengajak orang menggerakan ekonomi melalui kegiatan produktif. Nah supaya pusaran ekonomi bekerja, maka bisa dimulai dengan belanja di pasar tradisional, makan di kaki lima dan hindari mall maupun resto asing. Mau lebih hebat lagi, biasakan belanja bulanan di warung sekitar, belanja baju buatan lokal, belanja semua kebutuhan hanya dari produk lokal saja.

Dulu, India bisa merdeka dari inggris bukan karena perjuangan bersenjata, tapi karena gerakan swadeshi yakni mau memintal sendiri hasil panen kapas mereka menjadi tekstil. Hal ini menyebabkan industri tekstil di Inggris lumpuh total kekurangan bahan baku, dan partai buruh di sana, memaksa pemerintah Inggris untuk memerdekakan India, agar mereka bisa impor bahan baku dari India dan pabriknya bisa mulai produksi lagi. Sekarang mereka jadi raja tekstil dengan berbagai varian produk mulai dari harga 20rb/m s.d. 70jt/m.

Jadi kalo sekedar narik uang lalu di taruh di celengan, itu tidak ada manfaatnya, dan kalo di taruh di bank Syariah, itu masih lebih baik, namun begitu masyarakat golongan ekonomi lemah yang tidak bankable, tetap tidak bisa menikmati pinjaman dari perbankan, dan mereka mestinya bisa dibantu oleh pemerintah melalui program pemberdayaan…

Buat masyarakat ekonomi lemah yang tidak tersentuh layanan perbankan, bisa menggunakan kekuatan Islam yang akan jauh lebih hebat lagi memberikan manfaat jika lembaga Zakat dikelola lebih transparan. Selama ini penyaluran zakat di masjid dan lembaga sosial disekitar kita, kebanyakan tidak untuk kegiatan produktif, tapi untuk memenuhi kebutuhan konsumtif kalangan tidak mampu.

Disamping itu, transparansinya juga diragukan, lembaga penerima zakat hanya mengirimkan ucapan terimakasih, sebagai tanda bahwa nama donatur sudah tercatat dalam database mereka, tapi tidak pernah ada kiriman laporan kegiatan atau laporan keuangan yang menjelaskan penggunaan dana zakat. Jadi kalo kita semua umat muslim mau membangkitkan ekonomi Islam, bisa mulai dari transparansinya, sehingga seluruh rakyat muslim bisa membantu muslim lainnya untuk bangkit secara ekonomi. Jangan sampai dana zakat digunakan untuk mengerakan kegiatan politik, untuk kampanye dan demo, untuk membeli senjata dan alat perang, apalagi untuk kegiatan non-produktif dan bahkan untuk kegiatan destruktif. Di beberapa negara yang sedang berperang, justru mereka akan semakin bangkrut karena uangnya dibakar buat beli amunisi dari negara asing…. dimana negara asing tersebut akan semakin kaya karena perang itu juga bisnis buat negara negara tersebut.

Nah saat ini kita sedang digiring menuju perang juga… mulai dari agenda tarik uang tanpa arah… membuat ekonomi goyah, masyarakat hidup makin susah dan ujung ujungnya mereka punya alasan kuat mengajukam tuntutan yang sulit kepada pemerintah dan bahkan banyak politikus yang berniat menggulingkan pemerintah. Jika mereka jadi penguasa, apakah akan lebih baik…? Pasti akan ada perlawan juga dari lawan politiknya, begitu seterusnya sehingga siapa pun pemerintahnya, kondisi ekonomi akan selalu gonjang ganjing jika tidak kita sadari bahwa kita sedang digiring menuju perpecahan dan kebangkrutan.

Ekonomi yang baik butuh suasana stabil dan aman, kalo sedang perang, pedagang juga tidak bisa jualan. Saat demo saja banyak toko yang tutup, walaupun pedagang keliling bisa menarik keuntungan, tapi tidak sebanding dengan kerugiannya. Bulan berikutnya pedagang keliling itu masih tetap keliling sebagai pedagang gurem…. padahal kalo mereka dibina, tentu mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan tempat usaha yang lebih permanen.

Yuuk deh… kita bangun suasana damai dalam Islam, melalui kegiatan produktif dan konstruktif. Stabil dan aman adalah daya tarik investasi. Uang dari negara manapun akan datang ke Indonesia dan secara tidak langsung akan mensejahterakan rakyatnya.

Ekonomi Indonesia akan terus membaik sejalan dengan semangat Islam yang damai dan produktif.

Heru Muara Sidik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s