Menabung dalam bentuk properti

Banyak orang salah mengartikan TABUNGAN, karena pada dasarnya semua orang punya tabungan di bank, atau bahkan di dalam celengan ayam, hal ini bukan berarti mereka sedang mempersiapkan masa depan, karena sejatinya uang dalam rekening tabungan, bukan lah menabung, tapi seperti isi dompet, yang setiap saat akan kita gunakan untuk membiayai aktivitas kehidupan kita sehari hari.

Jadi definisi menabung, bukan sekedar menaruh uang di bank, tetapi merupakan kegiatan mencadangkan sebagian penghasilan kita untuk membiayai pengeluaran di masa depan. Artinya setiap rupiah yang kita sisihkan, memiliki tujuan tertentu, misalnya kita menyisihkan uang untuk perbaikan kendaraan, atau untuk membeli kendaraan baru. Jadi menabung artinya adalah menyisihkan penghasilan untuk mengantisipasi kebutuhan dimasa depan yang memang sudah kita rencanakan.

Banyak kebutuhan masa depan yang harus disiapkan, antara lain, untuk keperluan sekolah, keperluan papan, dan keperluan lain seperti saat sakit, liburan, kegiatan keluarga, dsb. Begitu banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan sehingga bisa jadi seluruh penghasilan kita akan habis semuanya dan tidak ada lagi sisa yang bisa kita nikmati. Jadi menabung itu, juga akan mendorong kita untuk menentukan masa depan kita dengan mengatur pengeluaran, dan tentu saja merencanakan karir kita agar penghasilan terus meningkat dan mampu menutup kebutuhan sehari hari dan kebutuhan untuk MENABUNG.

Menabung dalam bentuk properti, merupakan salah satu bentuk investasi yang paling bagus, karena nilainya pasti akan selalu meningkat, dan saat dibutuhkan bisa menjadi penyelamat kualitas hidup kita dimasa tua.

Singkat kata, saya akan jelaskan soal cara mengelola penghasilan supaya bisa menabung, karena sejak kita mulai bekerja sebenarnya, sudah ada penghasilan untuk persiapan menabung. Saya yakin, bahwa banyak anak muda saat ini yang sudah bekerja saat mereka masih tinggal bersama orang tuanya, bahkan masih mengandalkan tumpangan orang tua saat sudah berumah tangga. Saya sendiri mengalaminya, selama setahun penuh masih tinggal bersama mertua, padahal saya juga sudah punya penghasilan sejak masih kuliah pada tahun kedua.

Saat itu, uang yang kita hasilkan sebenarnya hanya digunakan untuk transportasi dan makan siang saja. Saat itu, acara hiburan seperti nonton bioskop, traktir teman, atau jalan jalan sudah jauh saya hindari, karena hanya akan menggerus penghasilan. Uang yang tersisa, sudah pasti bisa di ukur, karena pengeluaran rutin akan terbentuk sesuai dengan gaya hidup yang kita tetapkan. Nah saat saya menikah, seluruh uang yang saya terima menjadi hak istri, dan saya hanya mengambil sesuai keperluan operasional sehari hari, dan jika ada kekurangan, tentu akan menggerus kebutuhan rumah tangga, namun tidak ada pengeluaran kontrak rumah, karena masih tinggal dengan mertua. Penghematan semacam ini, bukan berarti kita punya uang lebih untuk menaikan gaya hidup, tapi justru karena tidak ada pengeluaran sewa, maka kita punya kesempatan untuk menabung, minimal sebesar uang sewa yang kita hemat, untuk persiapan membeli rumah sendiri. Apalagi jika rumah sudah disediakan oleh orang tua, maka kita tidak perlu lagi mencicil rumah, namun untuk keperluan investasi, maka sebaiknya kita tetap menyisihkan uang untuk di alokasikan dalam bentuk properti, karena sejatinya properti adalah salah satu bentuk tabungan yang nilainya selalu naik (capital gain) dan merupakan jaminan masa depan paling aman.

Banyak rekan rekan yang baru bekerja berkisah, bahwa uang penghasilannya habis untuk operasional sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dicadangkan bagi keperluan investasi. Apa benar…?

Jika melihat gaya hidup hedonis, tentu saja uang itu akan habis, karena mereka membeli keperluan sehari hari di toko mahal, dan hanya minum air putih dari botol kemasan, belum lagi makan dari kantin kantor yang juga mahal, dan masih memberikan tip buat OB yang membantu membeli makanan tersebut. Padahal, kita bisa banyak menghemat jika kita membawa makanan yang dipersiapkan sendiri dari rumah, minum air dari fasilitas kantor yang jelas jelas gratis.. he..he..he…

Kenyataannya, kok kayak orang pelit banget ya..?

Sebenarnya tidak pelit, karena dari penghasilan tersebut, tentu saja sudah ada yang disisihkan untuk kegiatan sosial dan zakat, jadi tidak perlu merasa seperti orang yang pelit. Namun banyak anak muda yang merasa sudah sangat lelah ketika harus bekerja sampai malam hari dan tidak punya lagi waktu untuk mempersiapkan masakan sendiri, apalagi menyempatkan diri untuk belanja keperluan rumah tangga dari pasar murah.

Menjawab keluhan di atas, saya hanya berkomentar, bahwa jika anda sudah bekerja sepanjang hari dengan penghasilan yang rendah, berarti anda bekerja ditempat yang salah, sudah waktunya cari pekerjaan baru yang penghasilannya lebih baik. Hal ini biasa dilakukan oleh orang muda yang punya karir cemerlang. Oleh karena itu, bekerjalah dengan baik, supaya bisa minta naik gaji kepada atasan, atau cari kerja diperusahaan lain yang bisa membayar gaji lebih mahal.

Ada lagi yang mengatakan, bahwa dengan nilai tabungan yang sangat kecil, bagaimana mungkin saya memperoleh properti yang sekarang ini harganya sudah selangit?

Sebenarnya, harga properti memang akan terus naik, namun begitu banyak cara memperoleh properti dengan harga murah. Salah satu yang harus dipertimbangkan adalah, lokasi dan jenis propertinya. Untuk harga murah, kita bisa memilih properti dengan lokasi yang sederhana, misalnya diperkampungan dengan fasilitas jalan kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Tentu saja hal ini, terkesan kurang sesuai harapan, namun sebenarnya potensi hunian di daerah perkampungan padat, sangat potensial, karena harganya yang relatif murah, dan bisa di jadikan tempat kost karyawan yang lumayan mahal.

Alternatif lain untuk memperoleh properti adalah dengan membeli properti dipinggiran kota dengan cara kolektif. Caranya dengan mengumpulkan sejumlah orang sahabat untuk patungan membeli tanah yang cukup luas untuk dibagi-bagi menjadi kavling yang lebih kecil. Cara ini seperti membeli rumah secara grosir, dan sudah tentu harganya akan relatif murah, karena membeli tanah yang luas akan memperoleh harga per meter yang relatif lebih murah, apalagi jika lokasinya didaerah pinggiran kota. Banyak orang yang takut membeli tanah luas karena tidak mampu membelinya, padahal tanah luas itu masih bisa dijual lagi dalam bentuk kavling lebih kecil dengan harga mahal, dan hasil keuntungannya bisa menjadi subsidi loh.

Jika alternatif tersebut di atas masih juga sulit untuk diperoleh, masih ada cara investasi lainnya yang relatif murah dan mudah, yakni dengan membeli properti berupa tanah sawah produktif di pedesaan, yang tanahnya relatif sangat murah namun bisa menghasilkan beras untuk keperluan konsumsi bulanan, yang juga akan menghemat pengeluaran. Investasi semacam ini sangat menguntungkan dalam jangka panjang, karena akan menghemat pengeluaran, sekaligus menambah penghasilan dari hasil panen yang diperoleh setahun bisa dua atau bahkan mencapai empat kali panen.

Berapa sih nilai tabungan untuk memperoleh properti seperti tersebut di atas, ayo kita hitung saja dengan harga pasaran tahun 2017 ya….

Contoh, tanah di desa jawa tengah, ukuran 3000m, masih bisa diperoleh dengan harga @Rp30ribu, sehingga tanah seluas itu bisa dibeli dengan harga hanya Rp90juta. Jika dibeli secara patungan dengan 5 orang, maka cukup hanya membayar Rp18juta, atau kalo kita mau menabung, paling tidak cukup Rp750ribu per bulan, selama 24 bulan saja. Murah kan…

Tanah ini, akan terus naik nilainya paling tidak 10% pertahun, sehingga kalo dalam 5 tahun kedepan akan dijual lagi, nilainya bisa mencapai Rp145jt, atau memperoleh capital gain sampai 60%, tentu saja kenaikan ini hanya estimasi saja. Pada prakteknya sangat tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Apabila lokasi tersebut dekat dengan pusat pembangunan, maka kenaikan akan lebih tinggi lagi, namun jika tidak ada pembangunan yang signifikan, maka kenaikannya tidak sebesar itu. Ciri ciri pembangunan yang bagus, bisa terlihat pada kondisi jalan sekitar lokasi, semakin dekat jalan, dan kualitas jalan yang semakin baik, akan semakin tinggi nilai propertinya. Apalagi jika di sepanjang jalan tersebut banyak bangunan baru dan semakin ramai.

Jadi memperoleh properti itu mudah, hanya saja kita seringkali melihat properti itu hanya dalam bentuk rumah hunian yang nyaman, mewah dan ditengah kota, padahal banyak properti di desa, di perkampungan tengah kota, dan juga di pinggiran kota yang punya potensi pertumbuhan sangat baik untuk dibeli. Properti juga bisa dibeli secara patungan, karena saat ini banyak tanah atau rumah tua yang tanahnya luas, namun karena harus dijual seluruhnya, maka harganya jadi tidak terjangkau. Namun jika kita ajak teman dekat untuk membeli secara patungan, maka properti tersebut bisa dipecah jadi beberapa kavling yang siap dibangun dengan harga lebih murah dan sesuai dengan budget masing masing.

Rangkaian cerita di atas, merupakan rangkuman dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain, yang menjadi tempat saya berguru.

Semoga bermanfaat….

Advertisements

One thought on “Menabung dalam bentuk properti

  1. Pingback: Persiapan Pensiun | Catatan Herusidik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s