Kuasai harta untuk diri sendiri

Jika hanya membaca judulnya saja, kelihatannya kita egois ya? Sebenarnya tidak ada pikiran untuk menjadi egois, atau pelit. Judul di atas justru terinspirasi oleh beberapa kasus yang terjadi secara nyata, dimana saya dengar sendiri seorang manula yang bercerita tentang pengalamannya yang merasa diabaikan oleh anak-anaknya, sehingga harus kesepian. Ditambah lagi harta satu satunya yang mereka punya dikuasai oleh anak-anaknya, dan dijual untuk kepentingan anak-anaknya, sementara itu tidak ada anak-anaknya yang mau mengurus dirinya. Cerita ini seperti cerita drama sinetron saja, padahal dalam dunia nyata hal itu benar benar terjadi. Silahkan cari di google, dengan kata kunci orang tua yang ditelantarkan anaknya, maka akan muncul berbagai drama yang menyedihkan… hiks..

Pada kesempatan lain, istri saya cerita bahwa dia berjumpa dengan seorang manula yang punya harta cukup berlimpah dan di kunjungi anak-anaknya secara rutin, lalu saat istri saya bertanya resepnya, sehingga saya jadi terinspirasi untuk berbagi disini. Nah ayo kita simak cerita dibawah ini…

Sebut saja manula ini, bernama Ny. A, yang kebetulan cukup punya harta berupa properti yang menghasilkan nafkah lumayan banyak, sehingga atas semua kelebihan tersebut, Ny. A, secara rutin mengirimkan uang bulanan kepada anak-anaknya. Lalu yang terjadi justru Ny. A sangat kesepian, karena tidak pernah lagi anak-anaknya mau berkunjung kerumah, sekedar menyapa atau menemani. Atas situasi tersebut, akhirnya Ny. A menghentikan kegiatan rutin mengirim uang bulanan, dan sebagai konsekuensinya, seluruh anak-anaknya langsung menelpon dan mengunjunginya untuk “menagih uang bulanan” tersebut. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan oleh Ny. A untuk mengundang mereka kerumah, mengajak mereka makan bersama dan bermain dengan cucu-cucunya. Lalu saat acara selesai, barulah disiapkan uang tunai sebagai uang saku atas kunjungan cucu-cucunya tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa, karena ternyata sang cucu jadi ketagihan untuk datang secara rutin bergantian mengunjungi Ny. A, dan sejak saat itu, tidak ada lagi uang bulanan, tapi yang ada adalah kunjungan rutin yang menghibur setiap minggu.

Memahami pola pikir komersial seperti di atas, bukan hal yang salah bagi Ny. A untuk memanfaatkan kemampuan ekonominya guna mengatasi rasa kesepian. Namun ada kisah nyata yang menarik dari Singapura, dimana seorang ayah terpaksa menjadi gelandangan karena diusir oleh anaknya dari apartemen mewah miliknya sendiri yang sudah diwariskan kepada anak lelakinya, sehingga mendorong PM Singapura saat itu, Lee Kuan Yeuw mengeluarkan dekrit “Larangan kepada para orangtua untuk tidak mewariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal”.

Jadi pesannya jelas, bahwa harta yang sudah kita kumpulkan sedari muda, tidak boleh seluruhnya dibagikan atau diwariskan ketika kita masih hidup.

Kuasai harta untuk diri sendiri, jangan pernah membagi harta kepada anak, sebelum waktunya, karena anak punya kesempatan sendiri untuk membangun kehidupannya, tugas orang tua hanya membantu mereka meraih kehidupan dengan baik.

Selain itu, proses waris bisa dikembangkan menjadi pola “jual-beli” yang ringan dan memudahkan anak-anak untuk merintis kehidupan mereka sekaligus menjadi cara membangun hubungan baik dengan anak-anak. Salah satu saran bagus yang pernah diceritakan oleh seorang manula adalah, dengan “menjual” propertinya kepada anak-anaknya dengan cara kredit, dimana jumlah cicilan disepakat sesuai dengan kemampuan masing masing anak, dan cicilan harus dibayar tunai secara berkala, sehingga setiap bulan selalu ada anak-anak yang berkunjung untuk membayar cicilan tersebut, dan uangnya bisa untuk biaya hidup, atau untuk membeli oleh-oleh untuk cucu-cucu tersayang, tanpa harus kehilangan harga diri sebagai orang tua…  ini juga cara cerdas yang pantas untuk ditiru.

Cara cara luar biasa di atas, mungkin terlihat mudah bagi orang tua yang punya aset berupa properti, namun bagi orang tua yang tidak punya harta, ceritanya jadi berbeda. Itu sebabnya pendekatan spiritual sangat diperlukan, dan orang tua bisa menjadi sumber inspirasi jika punya suatu “kelebihan spiritual” misalnya sebagai tempat konsultasi bagi anak anaknya, dan juga menjadi “penjaga” ketentraman rumah anak-anaknya.

Cara cara diatas, sebenarnya tidak perlu terjadi, jika kita bisa membesarkan anak-anak kita dengan pemahaman spiritual yang baik, sehingga anak anak punya nilai etika sesuai dengan ajaran agama yang tidak pernah ada anak menelantarkan orang tuanya. Cara di atas, hanya menjadi contoh, jika ada diantara pembaca mengalami situasi buruk dalam menghadapi hubungan dengan anak-anaknya, dan hal ini bukan mustahil bisa terjadi pada siapa saja, karena anak adalah kertas putih yang polos pada awalnya, namun dengan berjalannya waktu, segalanya bisa berubah, dimana lingkungan baru, rumah tangga baru, pengaruh baru, dan perubahan jaman telah membuat dunia juga berubah… begitu juga masa depan kita….

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s