Kita harus kaya…!

Sebenarnya rejeki memang sudah diatur Allah SWT sebagaimana disampaikan pada ayat ini: 

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Jadi Allah sudah mengatur dan memberikan rejeki kepada seluruh mahlukNya secara penuh sesuai dengan jatahnya, namun sebagian orang justru menjadi tidak produktif dengan menyandarkan diri pada takdirNya, hal inilah yang seringkali diajarkan kepada kita melalui ustad-ustad yang memang hidupnya masih berjuang mencari nafkah dan bahkan hanya melalui dakwah ini mereka memperoleh nafkahnya.

Lantas akibatnya apa? 

Tentu saja Ustad yang tidak kaya tadi tidak akan pernah mendakwahkan tentang teladan bahwa orang Islam itu harus menjadi kaya, karena para ustad itu sendiri belum cukup kaya sebagaimana yang akan mereka sampaikan, sehingga banyak ustad yang hanya mengutip ajaran untuk menyikapi sebuah kemiskinan, seperti harus pandai bersyukur, berserah diri tanpa pernah mencari solusi, dan bahkan mengandalkan belas kasihan orang lain seolah hidup itu hanya berdiam diri dan rejeki akan datang sendiri. Kisah kisah teladan yang dipilih pun diambil dari kehidupan nabi dan rasul dari kisah kehidupan mereka saat sedang miskin atau sedang mendapat cobaan. Padahal itu momen yang pendek dalam kehidupan mereka. Seperti kisah Nabi Muhammad SAW saat baru hijrah, padahal sejak muda Nabi itu sangat kaya, karena mengelola bisnis pedagang kaya, Siti Khadijah, yang kelak dipersunting Nabi dengan mahar sangat mahal.

Ustad seperti ini mengajarkan pola pikir miskin kepada anak anak, seolah menjadi.miskin itu lebih mulia daripada menjadi kaya, dan orang kaya itu adalah orang yang jahat, korup dan pelit.

Padahal Rukun Islam mengajarkan kita selalu bertakwa dan bersabar, membayar zakat, bersedekah dan pergi haji, yang artinya kita harus kaya…! 

Apalagi…. para rasul dan nabi adalah mereka yang diutus oleh Allah karena mereka sudah tidak lagi berjuang mencari nafkah, tapi sudah kaya. Memang kaya disini bukan berarti hidup mewah, tapi sudah memperoleh kenyamanan hidup sehingga sanggup berkorban untuk orang lain, dan mengurus umat, selain itu teladan kita Nabi Muhammad adalah orang yang kaya loh…. karena dia pedagang dan seorang kepala negara.

Lantas kenapa saat ini ada diantara kita yang masih miskin, dan pura pura bersyukur seolah sudah kaya dan tercukupi, walau mungkin sudah bertakwa dan membayar zakat tapi belum bisa bersedekah dan berhaji…? 

Semua itu adalah akibat dari alam bawah sadar yang begitu kuat menekan keteladanan menjadi orang miskin yang bersyukur…. dan membenci uang serta takut menerima cobaan menjadi kaya, tamak dan korup. Sebaliknya, banyak orang Islam yang bertakwa, berzakat, bersedekah, berhaji dan bahkan sudah menghajikan banyak orang, serta anti korupsi disekitar kita.

Betul… mereka orang orang baik yang bisa kita tanya ilmunya menjadi kaya. Mereka menerima takdir dan berdoa untuk meningkatkan jatah rejeki yang sudah ditetapkan Allah, karena mereka bekerja produktif, mereka bergaul dalam lingkungan kaya dan mereka punya kekuatan ekonomi untuk mengajak umat muslim lainnya untuk ikut kaya dan menjadi orang baik… karena sejatinya kemiskinan itu justru lebih dekat dengan kejahatan.

Lihat saja bagaimana orang yang miskin seolah tidak punya rasa takut berbuat kejahatan atau melampiaskan penderitaannya pada orang disekitarnya dengan berbagai pelanggaran hukum, karena mereka sudah terlalu menderita sehingga tidak takut lagi untuk mengalami penderitaan lainnya.

Membuat mereka bangkit, perlu kesabaran, perlu waktu dan belum tentu ada hasil…. bukan karena mereka malas, tapi karena mereka sudah terlalu lama hidup apa adanya tanpa kegiatan produktif, sehingga canggung untuk mulai bekerja… takut salah dan cenderung menunggu sebagaimana selama ini mereka lakukan… yakni menunggu takdirnya…

Membangkitkan semangat untuk produktif perlu merubah pola pikirnya agar lebih positif dalam mengejar kekayaan, juga membuat semua sadar untuk bahwa menjadi kaya tidak serta merta terjadi begitu saja, tapi ada proses panjang yang harus dilalui, perlu kesabaran dan perjuangan, ada banyak rintangan dan penderitaan tapi semua itu sangat layak dan patut untuk dilalui karena kita akan sampai pada satu tujuan yakni KITA HARUS KAYA…!

Semoga tulisan saya bisa menjadi masukan bagi para Ustad agar berusaha untuk kaya dan mengajarkan ilmu menjadi orang kaya. Bagi yang belum kaya, tentu bisa belajar dari Ustad lain yang sudah lebih dulu kaya….

Mohon maaf bagi yang kurang berkenan, tulisan ini hanya merupakan harapan saya untuk membangun semangat wirausaha bagi semua orang termasuk para Ustad….

Salam….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s