Mengelola Uang

Saya termasuk orang pelit, terutama terhadap diri sendiri, sehingga hampir jarang belanja jika tidak diperlukan, apalagi membeli produk yang bisa kita buat sendiri.

Misalnya, saat saya membangun rumah pertama yang sekarang saya huni, saya mengerjakan sendiri pekerjaan elektrikal dan plumbing, karena dua jenis pekerjaan itu cukup mahal dan saya bisa mengerjakannya sendiri. Bahkan saya juga bisa membongkar pasang, mesin mobil, service berkala, memperbaiki dan mengecat seluruh body mobil. Saya juga bisa mengelas dan mengerjakan pekerjaan kasar lainnya. 

Itu semua saya lakukan karena saya sangat pelit jika memang bisa saya kerjakan sendiri dengan biaya jauh lebih hemat.

Sampai akhirnya saya kenal dengan seorang pensiunan pejabat yang mengajarkan saya hal baru dalam mengelola uang. Dimana seluruh penghasilan yang diperoleh, akan dibagi menjadi tiga bagian: 1. Untuk belanja kebutuhan rumah tangga; 2. Untuk sosial dan relasi; 3. Untuk tabungan dan investasi. Padahal saat itu saya hanya punya dua opsi saja, yakni untuk belanja rumah tangga dan tabungan saja. Maklum penghasilan saya dan istri saat itu (1989) hanya 1jt rupiah per bulannya. Jadi mana bisa kita bagi begitu banyaknya… apalagi buat orang lain….!? Itulah pelitnya saya.

Namun hal ini menginspirasi saya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi, karena uang itu sebenarnya selalu cukup jika kita bisa mengaturnya sejak awal. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang pembantu yang saat itu punya penghasilan hanya 60rb/bulan bisa numpang hidup dari majikan dan menafkahi keluarganya di desa, begitu juga seorang office boy (helper) yang penghasilannya hanya 100rb, juga bisa hidup sejahtera dengan 4 orang anaknya..

Inspirasi ini saya implementasikan dengan membagi penghasilan menjadi beberapa kelompok penting yakni: 

  1. Biaya operasional Suami dan Istri – karena tanpa ini kita tidak bisa menghasilkan uang lebih banyak.
  2. Biaya rumah tangga, termasuk susu, pakaian, sembako, bayar pembantu dan kebutuhan lain.
  3. Biaya pendidikan, termasuk sekolah anak dan seminar buat suami dan istri.
  4. Biaya sosial dan relasi, didalamnya termasuk zakat, infak dan sedekah.
  5. Biaya investasi dan tabungan haji

Nah setelah dibagi 5, pengaruhnya sangat dahsyat…. karena ternyata uangnya jadi sangat kecil untuk bisa benar benar dibagi 5…. ha..ha..ha.. tapi dari situlah lahir semangat untuk mencari tambahan dengan mengajar di Universitas Tarumanegara, mengerjakan pekerjaan partime dari beberapa kantor akuntan, memanfaatkan kendaraan untuk angkutan gelap yang searah dengan kantor tujuan, ditambah lagi istri saya mengajar les piano/organ…. sehingga dari sinilah penghasilan terus bertambah agak lumayan. 

Bahkan beberapa penghematan juga dilakukan, seperti mengerjakan service mobil berkala secara mandiri, memasak dan membersihkan rumah sendiri, sehingga tidak perlu banyak bayar pembantu.

Rasanya indah mengenang masa masa itu, karena uang belanja benar benar di atur agar cukup buat sebulan…. dan ada uang tabungan untuk beli rumah dan pergi haji.

Begitu besarnya semangat untuk maju, maka saya pun berpikir untuk cari pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih besar lagi. Apalagi saat itu saya sudah dapat tawaran gaji sebesar 1.3jt/bulan dari sebuah kantor akuntan kecil, namun akhirnya saya memilih kantor akuntan besar yang menawarkan penghasilan 1.9jt/bulan…. alhamdulillah… apalagi penghasilan istri yang sekitar 600rb/bln dan berbagai usaha kecil lainnya tetap jalan…

Dari semua itu, rumus pembagian tidak spesifik harus dengan proporsi tertentu, tapi menyesuaikan tingkat kenyamanan taraf hidup yang sanggup kita tanggung, sehingga semakin tinggi penghasilan, maka porsi investasi akan semakin besar… karena seluruh sisa pengasilan akan terakumulasi disana… 

Hasilnya pada tahun 1996 kita bisa membeli rumah pertama seharga 122jt dan tahun 1998 bisa berangkat ke tanah suci Mekkah… dengan biaya 10rb USD saat itu kurs Rp2.800/USD.

Bagi saya semua itu menjadi peristiwa penting yang seperti  baru terjadi kemarin saja, karena semua catatan masih lengkap dan rinci. Apalagi sekarang tambah lagi porsi untuk rekreasi dan hobi, sehingga tidak perlu lagi mengatur uang secara ketat seperti dulu…. 

Saat itu belum ada Robert Kyosaki, yang bicara soal penghasilan pasif dan cashflow quadrant... apalagi om Robert ini juga gak pernah jelas betul bisnisnya apa saja..? Tapi yang jelas bukunya laris manis menghasilkan uang banyak… saya iri juga sih…

Jadi saya juga mau belajar bikin buku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s