Category Archives: Pensiun

Inkubasi Bisnis Untuk Pensiunan 

Siang tadi kami sempatkan untuk bertemu beberapa sahabat karib, untuk membicarakan rencana acara HBH alumni Stan83 di Yogyakarta pada tanggal 22-23 Juli 2017 mendatang. Setelah materi utama beres, diskusinya mengalir simpang siur membahas berbagai masalah seolah kita sendiri gak punya masalah… ha..ha..ha… padahal di usia saat ini, hampir dipastikan kita sendiri sudah jadi masalah bagi orang lain…

Ya.. usia di atas 50tahun sudah pasti harus mempertimbangkan berbagai masalah kesehatan sampai masalah produktivitas yang makin merosot, padahal di usia emas seperti ini, banyak rekan rekan yang berada di puncak jabatan dengan pangkat dan penghidupan yang lumayan mapan. Namun pada saat yang sama, kita semakin menyadari bahwa sebentar lagi tiba waktunya untuk pensiun…

Obrolan hangat ini seakan menggugat para karyawan ini untuk mulai mempersiapkan diri menapaki karir baru sebagai pensiunan. Apalagi saat mengenang masa persiapan yang disediakan oleh perusahaan ataupun instansi dianggap kurang memadai. Umumnya persiapan hanya diberikan dalam bentuk persiapan mental dan pelatihan wirausaha yang diselenggarakan dalam waktu singkat setahun sebelum pensiun. 

Belum ada lulusan dari pelatihan semacam ini yang sukses jadi pengusaha kaya, yang ada hanya pensiunan yang beralih majikan, karena sekarang tetap harus kerja jatuh bangun melayani pelanggan yang sama menyebalkan seperti atasan mereka dahulu… hanya saja kali ini, mereka tidak ada pilihan lain…. ha..ha..ha… kalo dulu atasan bisa stress punya anak buah yang gak bisa di atur… nah sekarang  para pengusaha baru ini justru berusaha jadi anak manis agar pelanggannya tetap setia.

Sebagai business owner, budaya sebagai pengusaha tidak serta merta membawa para pensiunan langsung melejit menjadi boss besar yang bisa duduk nyaman dan main perintah sana sini, karena mereka bukan dilatih sebagai pengusaha besar, tapi dilatih untuk bersabar dan menerima kehidupan sebagai pensiunan yang harus hidup sederhana dan menjalani usaha kecil yang rawan bangkrut karena berjuang sendirian. Apalagi seorang mantan pejabat yang sudah biasa jadi bos, tiba tiba harus melayani pelanggan yang pangkatnya tidak lebih tinggi dari supirnya kala itu. 

Lantas produk latihan seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang calon pensiunan dan butuh pelatihan berapa lama agar bisa menjadi pensiunan kaya raya dan kerja ringan…?

Bisnis skala besar tidak mungkin dikerjakan sendirian karena pasti akan kekurangan modal, sementara para pensiunan itu sendirian harus berjuang menentukan pilihan investasi dan bisnisnya agar bisa mengantikan penghasilan sebelumnya, atau paling tidak bisa menambah uang pensiun yang nilainya jelas jauh lebih kecil daripada penghasilan saat masih bekerja.

Walaupun anda pernah bekerja diperusahaan/ institusi besar, berapapun uang pensiun yang anda punya hanya akan membuat anda nyaman sesaat setelah pensiun, namun tetap saja kehidupan anda akan lebih rapuh karena kesehatan semakin buruk dan produktivitas yang menurun. 

Nah berangkat dari kondisi tersebut di atas, perlu dipertimbangkan untuk membuat program pensiunan yang lebih terintegrasi dengan bisnis perusahaan. Jadi para calon pensiunan sudah dilatih dan dibimbing sebagai mitra perusahaan dan terus dibimbing selama masa inkubasi agar bisnisnya berjalan sesuai kebutuhan perusahaan. Apalagi tidak semua karyawan siap menjadi wirausahawan…. sehingga seorang karyawan yang memang kurang mampu menjadi pengusaha bisa tetap bekerja dalam sistem yang sudah dibangun sesuai profilenya. Harapannya, mereka bisa secara bertahap mengembangkan diri dengan persiapan lebih panjang  sebelum akhirnya melepaskan diri menjadi bagian dari ekosistem wirausaha yang sedang berjalan dalam inkubasi perusahaan.

Artinya, perusahaan bisa membangun bisnis inkubasi ini sebagai bagian dari vendor perusahaan yang diawaki oleh para calon pensiunan dan pada saat yang tepat para pensiunan bisa tetap berkarya sebagai sub-vendor bagi perusahan dalam bisnis inkubasi tersebut. 

Perusahaan dalam bisnis inkubasi ini sebenarnya merupakan perusahaan afiliasi, mirip dengan koperasi karyawan, tapi bisa saja bentuknya adalah koperasi pensiunan karyawan, atau bentuk lainnya yang memang di alokasikan untuk menjadi bagian dari CSR perusahaan, sebagaimana perusahaan mengembangkan UKM dan kegiatan sosial lainnya, hanya saja kali ini prosesnya melibatkan para pensiunan sebagai mitra kerja dan ujung tombak bisnisnya.

Metode ini tentu akan menguntungkan perusahaan dan karyawan yang akan pensiun, karena setidaknya perusahaan akan memperoleh vendor terpercaya dan karyawan bisa belajar mengkloning vendor sejenis dengan harga lebih murah atau kualitas layanan/produk yang lebih baik. Apalagi jika para calon pensiunan ini juga orang orang yang loyalitasnya tinggi karena mau mendedikasikan seluruh usia produktifnya bagi kepentingan perusahaan.

Perusahaan tidak perlu investasi terlalu mahal, karena perannya hanya menyediakan captive-market, agar perusahaan inkubasi ini bisa berjalan dan berkembang sesuai harapan. 

Selain ide diatas, sebenarnya bisa juga dbentuk satu komunitas pensiunan yang mengintegrasikan seluruh potensi para pensiunan dengan variasi bisnis yang kompleks, menjadi satu ekosistem bisnis yang saling menunjang, sehingga proses bisnis dari hulu ke hilir dapat saling terkait sehingga setiap orang bisa mengisi celah bisnis yang pasarnya juga captive

Tentu saja ide tersebut diatas perlu diuji kelayakannya agar bisa diterima oleh semua kalangan, sekaligus menguji komitmen para calon pensiunan dan pensiunan itu sendiri. Namun faktor suksesnya sangat tergantung pada kemampuan perusahaan menyediakan captive market bagi para wirausahawan tua yang masih perlu inkubasi agar mereka siap bertahan dan merebut pasar baru atau bahkan membantu perusahaan memenangi persaingan dengan cost leadership  tinggi karena dukungan vendor hebat yang di awaki para pensiunan dan calon pensiunan.

Lalu bagaimana kita bisa mulai mengimplentasikan ide ini…?

Bisa saja dengan membagikan tulisan inj kepada para pengambil keputusan, atau mengajak para pejabat yang sebenarnya juga sedang galau menghadapi masa pensiunnya agar mempertimbangkan untuk mendirikan koperasi pensiunan atau membuat affiliate-vendor yang di awaki oleh para pensiunan hebat.

Akhirnya hari makin sore, rasanya waktu gak berdetak… tapi kita harus pulang. Padahal Kang Dadi Budaeri, Apri Hartana, Nofel Hasan, Aris Priatno dan Hesthi Sambodo masih antusias untuk mewujudkan ide tersebut…. walaupun sebenarnya dengan sadar kita sudah mendirikan Yayasan Stan83, yang bisa menjadi inkubator bisnis dengan skala nasional dan berbagai latar belakang minat serta pengalaman. 

Satu hal yang masih menjadi ganjalan: kita semua adalah akuntan yang konservatif dan belum mampu membuka pasar sebagai pemicu bisnis yang mampu menjadi inkubator bisnis yang baik, tapi bisa membuat kebijakan dalam skala nasional karena rekan rekan kita punya pengaruh pada para pengambil keputusan.

Sebenarnya konsep ini sangat mirip dengan pendekatan Japan Incorporation yang membangun industrinya dengan membangun pabrik besar yang disupply oleh perusahaan kecil disekitarnya dengan bantuan peralatan dan pelatihan, sehingga kualitas produk menjadi standar dan kontinuitas produk terjaga.

Selain itu, semua perusahaan besar yang menerapkan pendekatan ini selalu punya keunggulan dan kekuatan untuk menyediakan produk dengan  kecepatan, harga murah, kuantitas dan kualitas sesuai standar yang diharapkan. Walaupun hal ini tidak terkait dengan pensiunan, namun konsep ini mendorong tumbuhnya iklim wirausaha yang berkembang dan menulari banyak orang untuk menjadi pengusaha…. bukan menjadi karyawan yang selalu galau  ketika menghadapi masa pensiun.