Pelihara Kesehatan Sejak Muda

Pernah terbayang jika anda menjadi orang tua yang sudah renta, sedang sakit dan tidak bisa bergerak sendiri tanpa bantuan orang lain? Walaupun tidak semua orang beruntung punya tubuh yang sehat dan lengkap sejak lahir, namun pada umumnya setiap manusia lahir dengan segala kesempurnaannya, dan puncak kesehatan manusia adalah ketika kita tumbuh menjadi dewasa muda. Jadi jangan heran kalo anak muda suka petentang pententeng nantangin duel atau adu kekuatan fisik. Padahal fisik itu yang akan terus semakin rapuh serta tidak lagi mampu mendukung kemauan alam pikiran yang bisa terus menjelajahi alam semesta, atau bisa juga akhirnya  pikiran itu terperangkap dalam tubuh yang sakit. Jangan sampai hanya gara gara duel fisik, tubuh yang mudah dan sehat menjadi cidera dan cacat, apalagi sampai menimbulkan penderitaan bertahun tahun, alangkah sedihnya harus kehilangan kesehatan justru ketika kita sedang berada di usia produktif.

Memelihara kesehatan sejak muda, bisa dilakukan dengan menjaga gaya hidup yang sehat, hindari kebiasaan yang akan mengancam kesehatan, apalagi sampai melakukan kegiatan yang beresiko mencederai fisik. Kesehatan menjadi faktor penting untuk bisa menikmati kehidupan ini, kegagalan menjaga tubuh tetap sehat, akan menjadi perangkap atas penderitaan lahir bathin sepanjang hayat. Banyak orang yang berkelakar, bahwa saat muda kita tidak bisa makan enak karena tak punya uang, saat punya uang malah sudah dilarang makan enak karena alasan kesehatan. Hidup itu penuh ironi, jadi menikmati kehidupan itu juga salah satu faktor penentu dalam menjaga kesehatan.

Apabila anda sudah merasa terlambat untuk menjaga tubuh yang sudah renta dan terlanjut sakit, maka pesan di atas sebenarnya juga belum terlambat. Menjaga kesehatan tubuh yang tersisa, juga perlu agar tidak semakin parah atau bahkan menjadi  sakit yang berkelanjutan. Jika tubuh ini sakit, kenali masalahnya dan lakukan langkah tepat agar kesehatan tubuh bisa bertahan lebih lama.

Mengapa harus mempertahankan kesehatan selama mungkin…?

Karena, walaupun umur ditangan Tuhan, tapi tidak ada orang yang  mau punya umur panjang tapi dalam keadaan sakit-sakitan. Jadi menjaga kesetahan sejak muda, adalah salah satu cara untuk bertahan sehat sampai akhir hayat. Tubuh sehat juga bagian dari kebahagiaan yang harus kita raih, jangan pernah membiarkan pekerjaan mengendalikan kehidupan kita sehingga harus kehilangan kesehatan. Menjaga kesehatan harus dimulai dengan memahami kondisi tubuh, mengenali sinyal alarm tubuh yang dengan setia memberikan alert melalui pesan pesan sederhana, seperti rasa sakit pada bagian tubuh, rasa pening, penglihatan yang kabur, kesemutan pada anggota tubuh, rasa nyeri pada bagian tertentu, rasa ngilu pada gerakan tertentu, atau gejala lain yang terkesan remeh dan tidak mempengaruhi kegiatan kita.

Pesan pesan yang disampaikan oleh tubuh, sebenarnya sudah kita ketahui sejak kita bayi. Itu sebabnya bayi menangis saat lapar, haus, sakit atau merasa tidak nyaman, tidak aman dan bahkan jika berada di lingkungan asing. Sinyal-sinyal semacam itu terkesan remeh dan tidak penting, namun pada kenyataannya, rasa kesemutan yang ringat, bisa berarti tanda tanda adanya syarat yang mengalami gangguan akibat aliran darah yang kurang lancar. Bahkan penyakit jantung, yang membunuh manusia dengan seketika juga bukan tanpa peringatan. Rasa sakit itu sudah terasa sejak awal gejala pertama terjadi, hanya saja banyak orang yang kurang peka memperhatikan sinyal tersebut, sehingga bisa terjadi kita mengalami stroke tanpa pernah memperhatikan tanda tanda tersebut.

Hidup sehat juga bisa dimulai melalui pergaulan dengan orang orang sehat, mereka yang suka merokok, tentu harus kita hindari jika kita tidak ingin merokok, dan bagi yang sudah jadi perokok, tentu bisa berusaha menghentikan kebiasaan buruknya, dengan mencari lingkungan pergaulan yang bebas rokok.

Semua hal yang saya tulis di atas, merupakan kajian yang saya peroleh dari obrolan ringan saat membesuk rekan rekan yang sedang sakit. Mereka umumnya bercerita tentang latar belakang penyakitnya, dan mereka juga sadar bahwa kualitas hidupnya menurun, dan terancam ketika mereka mengabaikan sinyal tanda kesehatan sedang terganggu. Oleh karena itu, ayo kita hindari risiko kesehatan yang lebih buruk dengan menjaga kesehatan sejak sekarang, dan lebih baik lagi jika kita menyadarinya sejak kita muda.

Semoga bermanfaat…

Advertisements

Pelihara Kesehatan sejak muda

Kesehatan adalah sebuah pilihan, banyak dari kita yang mengandalkan petugas medis untuk menjaga kesehatan kita, bahkan ada juga orang yang tidak peduli dengan kesehatan karena bagi mereka urusan sehat itu sudah takdirnya dari yang Maha Kuasa.

Ada sedikit nasihat yang saya peroleh dari seorang kawan, bahwa kesehatan itu perlu dijaga, karena yang punya roh kita tentu tidak ingin mempertahankan roh itu pada tubuh yang rusak atau sakit. Bisa dibayangkan jika anda tetap bertahan hidup dengan penderitaan berkepanjangan karena sakit yang tidak pernah sembuh?

Kesempatan terbaik dalam memelihara kesehatan, adalah ketika kita masih muda, karena saat itu, tubuh akan tumbuh dewasa dalam keadaan yang terbaik. Kesehatan akan semakin buruk jika kita tidak memahami tanda-tanda alam bahwa kesehatan kita akan menurun saat tua nanti. Kesempatan untuk tetap sehat dimasa tua, harus dipersiapkan dengan baik, karena sejatinya tidak ada orang tua yang tidak pernah sakit, mereka hanya mengelola hatinya, agar rasa sakit itu tidak merongrong kebahagiaan mereka, sementara fisik akan terus mengalami penuaan dan akhirnya juga akan terlalu tua untuk bertahan hidup.

Pelihara Kesehatan sejak muda, jaga gaya hidup yang sehat, hindari kebiasaan yang akan mengancam kesehatan. Memang umur ditangan Tuhan, tapi anda tidak mau kan punya umur panjang tapi sakit-sakitan.

Nikmati suasana spiritual

Pernah terpikir kapan kita wafat…?

Tentu saja tidak ada yang tahu, apalagi merencanakannya, tapi sebenarnya, semua orang akan mati dengan berbagai cara dan gaya, ha..ha..ha..  Bener loh, ada yang takut mati, tapi gak bisa menolak kalo waktunya sudah tiba. Perencanaan untuk mati, hanya dimaksudkan untuk membekali diri dengan amal sholeh, agar saat masuk akhirat nanti, kita mendapatkan tempat yang layak di sisiNya. Namun begitu, setiap orang akan mati dengan meninggalkan kenangan dan warisan harta benda yang tersisa. Oleh karena itu, banyak orang tua yang mulai mendalami agama ketika sudah manula, hanya untuk membuat hati menjadi lebih nyaman dan tenang saat ajal menyapa.

Sebegitu terlambatkah jika kita mulai ketika kita tua… ?

Tidak ada kata terlambat, nikmati suasana spiritual, mendalami agama dan kepercayaan masing masing, untuk mendekatkan diri menuju akhirat, karena sejatinya kita sedang dalam antrian menunggu panggilanNya.

Setiap orang boleh merencanakan akhiratnya kapan saja, semakin muda semakin baik, jadi tidak ada batasan kapan harus mulai, namun saat kita sudah mulai, nikmati suasana spiritualnya, karena disana ada ketenangan, kesejukan bathin dan keikhlasan, yang akan membuat jiwa raga yang sudah renta menjadi lebih sehat.

Umur tidak bisa diduga, tapi para manula yang menembus usia diatas 80 tahun, ternyata menikmati kehidupannya dengan baik, mereka mempunyai indikator kenyamanan dengan 3 hal utama, yakni tidur enak, makan enak dan (maaf) BAB enak. Semua itu bisa dicapai jika kita punya semangat spiritual yang baik, berpikir positif, memaafkan semua kesalahan orang, mencintai rutinitas harian, dan bahkan bersyukur atas semua kesempatan yang sudah diraih selama ini. Cara ini, akan membuat kita meninggalkan kenangan baik bagi lingkungan dan keluarga, serta mewariskan ilmu dan harta yang bermanfaat bagi orang sekitar.

Itu semua merupakan rangkuman penting yang saya dapat dari seorang manula yang saat ini masih aktif bekerja dengan keikhlasan yang luar biasa.

Kuasai harta untuk diri sendiri

Jika hanya membaca judulnya saja, kelihatannya kita egois ya? Sebenarnya tidak ada pikiran untuk menjadi egois, atau pelit. Judul di atas justru terinspirasi oleh beberapa kasus yang terjadi secara nyata, dimana saya dengar sendiri seorang manula yang bercerita tentang pengalamannya yang merasa diabaikan oleh anak-anaknya, sehingga harus kesepian. Ditambah lagi harta satu satunya yang mereka punya dikuasai oleh anak-anaknya, dan dijual untuk kepentingan anak-anaknya, sementara itu tidak ada anak-anaknya yang mau mengurus dirinya. Cerita ini seperti cerita drama sinetron saja, padahal dalam dunia nyata hal itu benar benar terjadi. Silahkan cari di google, dengan kata kunci orang tua yang ditelantarkan anaknya, maka akan muncul berbagai drama yang menyedihkan… hiks..

Pada kesempatan lain, istri saya cerita bahwa dia berjumpa dengan seorang manula yang punya harta cukup berlimpah dan di kunjungi anak-anaknya secara rutin, lalu saat istri saya bertanya resepnya, sehingga saya jadi terinspirasi untuk berbagi disini. Nah ayo kita simak cerita dibawah ini…

Sebut saja manula ini, bernama Ny. A, yang kebetulan cukup punya harta berupa properti yang menghasilkan nafkah lumayan banyak, sehingga atas semua kelebihan tersebut, Ny. A, secara rutin mengirimkan uang bulanan kepada anak-anaknya. Lalu yang terjadi justru Ny. A sangat kesepian, karena tidak pernah lagi anak-anaknya mau berkunjung kerumah, sekedar menyapa atau menemani. Atas situasi tersebut, akhirnya Ny. A menghentikan kegiatan rutin mengirim uang bulanan, dan sebagai konsekuensinya, seluruh anak-anaknya langsung menelpon dan mengunjunginya untuk “menagih uang bulanan” tersebut. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan oleh Ny. A untuk mengundang mereka kerumah, mengajak mereka makan bersama dan bermain dengan cucu-cucunya. Lalu saat acara selesai, barulah disiapkan uang tunai sebagai uang saku atas kunjungan cucu-cucunya tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa, karena ternyata sang cucu jadi ketagihan untuk datang secara rutin bergantian mengunjungi Ny. A, dan sejak saat itu, tidak ada lagi uang bulanan, tapi yang ada adalah kunjungan rutin yang menghibur setiap minggu.

Memahami pola pikir komersial seperti di atas, bukan hal yang salah bagi Ny. A untuk memanfaatkan kemampuan ekonominya guna mengatasi rasa kesepian. Namun ada kisah nyata yang menarik dari Singapura, dimana seorang ayah terpaksa menjadi gelandangan karena diusir oleh anaknya dari apartemen mewah miliknya sendiri yang sudah diwariskan kepada anak lelakinya, sehingga mendorong PM Singapura saat itu, Lee Kuan Yeuw mengeluarkan dekrit “Larangan kepada para orangtua untuk tidak mewariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal”.

Jadi pesannya jelas, bahwa harta yang sudah kita kumpulkan sedari muda, tidak boleh seluruhnya dibagikan atau diwariskan ketika kita masih hidup.

Kuasai harta untuk diri sendiri, jangan pernah membagi harta kepada anak, sebelum waktunya, karena anak punya kesempatan sendiri untuk membangun kehidupannya, tugas orang tua hanya membantu mereka meraih kehidupan dengan baik.

Selain itu, proses waris bisa dikembangkan menjadi pola “jual-beli” yang ringan dan memudahkan anak-anak untuk merintis kehidupan mereka sekaligus menjadi cara membangun hubungan baik dengan anak-anak. Salah satu saran bagus yang pernah diceritakan oleh seorang manula adalah, dengan “menjual” propertinya kepada anak-anaknya dengan cara kredit, dimana jumlah cicilan disepakat sesuai dengan kemampuan masing masing anak, dan cicilan harus dibayar tunai secara berkala, sehingga setiap bulan selalu ada anak-anak yang berkunjung untuk membayar cicilan tersebut, dan uangnya bisa untuk biaya hidup, atau untuk membeli oleh-oleh untuk cucu-cucu tersayang, tanpa harus kehilangan harga diri sebagai orang tua…  ini juga cara cerdas yang pantas untuk ditiru.

Cara cara luar biasa di atas, mungkin terlihat mudah bagi orang tua yang punya aset berupa properti, namun bagi orang tua yang tidak punya harta, ceritanya jadi berbeda. Itu sebabnya pendekatan spiritual sangat diperlukan, dan orang tua bisa menjadi sumber inspirasi jika punya suatu “kelebihan spiritual” misalnya sebagai tempat konsultasi bagi anak anaknya, dan juga menjadi “penjaga” ketentraman rumah anak-anaknya.

Cara cara diatas, sebenarnya tidak perlu terjadi, jika kita bisa membesarkan anak-anak kita dengan pemahaman spiritual yang baik, sehingga anak anak punya nilai etika sesuai dengan ajaran agama yang tidak pernah ada anak menelantarkan orang tuanya. Cara di atas, hanya menjadi contoh, jika ada diantara pembaca mengalami situasi buruk dalam menghadapi hubungan dengan anak-anaknya, dan hal ini bukan mustahil bisa terjadi pada siapa saja, karena anak adalah kertas putih yang polos pada awalnya, namun dengan berjalannya waktu, segalanya bisa berubah, dimana lingkungan baru, rumah tangga baru, pengaruh baru, dan perubahan jaman telah membuat dunia juga berubah… begitu juga masa depan kita….

Semoga bermanfaat.

Bersahabat dengan teman lama

Silaturahmi merupakan salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kita, karena memperluas jaringan pertemanan, bisa menjadi kegiatan keseharian, memperluas sumber rejeki, memperpanjang usia, meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani, dan berbagai manfaat lainnya, simak manfaatnya disini.

Apalagi saat ini, jaman teknologi digital telah memudahkan kita semua untuk saling mengenali dan berinteraksi. Kebahagiaan saat masa kanak kanak, bisa di ungkap lagi dan bahkan bisa jadi penghilang jarak antara status sosial yang berbeda. Saat kita menjadi tua, tidak ada lagi yang mau mendengarkan kisah kita, kecuali teman atau mereka yang sama sama hidup pada jamannya. Ungkapan ini saya dengar langsung saat saya bertemu dengan para manula baik yang di panti werda maupun para manula yang berada di lingkungan keluarga, dan lingkungan teman teman kita sendiri.

Persahabatan adalah kebutuhan mahluk sosial seperti kita. Tanpa teman, hidup terasa asing, dan saya sendiri merasakan bahwa saat pertemuan dengan teman, malah sedapat mungkin kita membangun hubungan komunikasi yang semakin akrab, saling percaya dan bisa juga meningkat menjadi hubungan bisnis atau lebih dari itu, bisa jadi hubungan keluarga jika sampai besanan… ha..ha..ha…

Sahabat baru dan teman lama, sebenarnya sama saja, karena pada pertemuan di usia yang sudah semakin tua, ingatan masa lalu tentang sahabat kita itu, belum tentu sama dengan saat ini. Perbedaan status sosial, perbedaan latar belakang pendidikan, perbedaan lingkungan pergaulan, perubahan tingkat spiritualitasnya, dan masih banyak perbedaan lain yang akan merubah teman lama kita menjadi “orang baru” yang sama sekali berbeda. Itu sebabnya, saya melihat teman lama itu sama juga dengan teman baru, namun yang ingin saya tekankan disini adalah kesamaan usia, dimana kita sudah melalui “zona waktu” yang relatif sama, sehingga ada kemungkinan kita bisa melalui hari tua bersama sama, dengan alasan yang sederhana, bahwa: silaturahmi-mlc

Bersahabat dengan teman teman lama, itu penting karena hanya mereka yang akan tersisa, untuk menemani kita mengisi kegiatan sehari haris, saat kita semua semakin tua.

Dalam sebuah kesempatan kunjungan saya ke sebuah panti werda pada beberapa tahun yang telah lalu, saya menjumpai bahwa para manula ini sangat senang bertemu dengan mereka yang seusia, dan mereka bisa bersahabat, termasuk juga bermusuhan hanya gara gara cemburu jika ngobrol tidak ditanggapi oleh temannya…. sampai disini, bisa kita bayangkan bahwa dunia manula sebenarnya sama saja seperti dunia kita saat kanak kanak dulu, karena pekerjaan kita hanya bermain, makan dan istirahat saja.

Pada kesempatan berbeda, saya juga sempat bertemu dengan seorang manula yang setiap hari ditempatkan diteras oleh keluarganya, dan saat waktu makan dirawat dengan baik dan teratur, namun terlihat bahwa dia sangat kesepian. Saat kita sapa, terlihat raut wajah senang, namun bingung karena tidak tahu siapa yang menyapa, dan mau ngomong apa?

Dari uraian tentang manula di atas, saya merasa bahwa kita semua juga akan jadi manula seperti mereka, hanya saja situasinya harus kita rancang sejak sekarang, supaya hari tua bisa di isi dengan lingkungan baru yang penuh semangat dan persahabatan yang saling melengkapi, sehingga hari tua bisa di isi dengan kegiatan yang menyehatkan dan bermanfaat bagi tubuh dan akal kita.

Itu sebabnya, bersahabat dengan teman teman lama, akan lebih kuat manfaatnya karena kita punya masa lalu yang sama, dan bisa jadi bahan cerita yang diulang ulang tanpa pernah bosan. Oleh karena itu, ayo kita mulai bangun hubungan masa depan dengan merintisnya sejak sekarang melalui ikatan alumni, ikatan profesi dan ikatan komunitas lain yang akan mengisi hari hari tua dengan berbagai kegiatan positif selama hayat dikandung badan.

Semoga bermanfaat….

 

Menabung dalam bentuk properti

Banyak orang salah mengartikan TABUNGAN, karena pada dasarnya semua orang punya tabungan di bank, atau bahkan di dalam celengan ayam, hal ini bukan berarti mereka sedang mempersiapkan masa depan, karena sejatinya uang dalam rekening tabungan, bukan lah menabung, tapi seperti isi dompet, yang setiap saat akan kita gunakan untuk membiayai aktivitas kehidupan kita sehari hari.

Jadi definisi menabung, bukan sekedar menaruh uang di bank, tetapi merupakan kegiatan mencadangkan sebagian penghasilan kita untuk membiayai pengeluaran di masa depan. Artinya setiap rupiah yang kita sisihkan, memiliki tujuan tertentu, misalnya kita menyisihkan uang untuk perbaikan kendaraan, atau untuk membeli kendaraan baru. Jadi menabung artinya adalah menyisihkan penghasilan untuk mengantisipasi kebutuhan dimasa depan yang memang sudah kita rencanakan.

Banyak kebutuhan masa depan yang harus disiapkan, antara lain, untuk keperluan sekolah, keperluan papan, dan keperluan lain seperti saat sakit, liburan, kegiatan keluarga, dsb. Begitu banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan sehingga bisa jadi seluruh penghasilan kita akan habis semuanya dan tidak ada lagi sisa yang bisa kita nikmati. Jadi menabung itu, juga akan mendorong kita untuk menentukan masa depan kita dengan mengatur pengeluaran, dan tentu saja merencanakan karir kita agar penghasilan terus meningkat dan mampu menutup kebutuhan sehari hari dan kebutuhan untuk MENABUNG.

Menabung dalam bentuk properti, merupakan salah satu bentuk investasi yang paling bagus, karena nilainya pasti akan selalu meningkat, dan saat dibutuhkan bisa menjadi penyelamat kualitas hidup kita dimasa tua.

Singkat kata, saya akan jelaskan soal cara mengelola penghasilan supaya bisa menabung, karena sejak kita mulai bekerja sebenarnya, sudah ada penghasilan untuk persiapan menabung. Saya yakin, bahwa banyak anak muda saat ini yang sudah bekerja saat mereka masih tinggal bersama orang tuanya, bahkan masih mengandalkan tumpangan orang tua saat sudah berumah tangga. Saya sendiri mengalaminya, selama setahun penuh masih tinggal bersama mertua, padahal saya juga sudah punya penghasilan sejak masih kuliah pada tahun kedua.

Saat itu, uang yang kita hasilkan sebenarnya hanya digunakan untuk transportasi dan makan siang saja. Saat itu, acara hiburan seperti nonton bioskop, traktir teman, atau jalan jalan sudah jauh saya hindari, karena hanya akan menggerus penghasilan. Uang yang tersisa, sudah pasti bisa di ukur, karena pengeluaran rutin akan terbentuk sesuai dengan gaya hidup yang kita tetapkan. Nah saat saya menikah, seluruh uang yang saya terima menjadi hak istri, dan saya hanya mengambil sesuai keperluan operasional sehari hari, dan jika ada kekurangan, tentu akan menggerus kebutuhan rumah tangga, namun tidak ada pengeluaran kontrak rumah, karena masih tinggal dengan mertua. Penghematan semacam ini, bukan berarti kita punya uang lebih untuk menaikan gaya hidup, tapi justru karena tidak ada pengeluaran sewa, maka kita punya kesempatan untuk menabung, minimal sebesar uang sewa yang kita hemat, untuk persiapan membeli rumah sendiri. Apalagi jika rumah sudah disediakan oleh orang tua, maka kita tidak perlu lagi mencicil rumah, namun untuk keperluan investasi, maka sebaiknya kita tetap menyisihkan uang untuk di alokasikan dalam bentuk properti, karena sejatinya properti adalah salah satu bentuk tabungan yang nilainya selalu naik (capital gain) dan merupakan jaminan masa depan paling aman.

Banyak rekan rekan yang baru bekerja berkisah, bahwa uang penghasilannya habis untuk operasional sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dicadangkan bagi keperluan investasi. Apa benar…?

Jika melihat gaya hidup hedonis, tentu saja uang itu akan habis, karena mereka membeli keperluan sehari hari di toko mahal, dan hanya minum air putih dari botol kemasan, belum lagi makan dari kantin kantor yang juga mahal, dan masih memberikan tip buat OB yang membantu membeli makanan tersebut. Padahal, kita bisa banyak menghemat jika kita membawa makanan yang dipersiapkan sendiri dari rumah, minum air dari fasilitas kantor yang jelas jelas gratis.. he..he..he…

Kenyataannya, kok kayak orang pelit banget ya..?

Sebenarnya tidak pelit, karena dari penghasilan tersebut, tentu saja sudah ada yang disisihkan untuk kegiatan sosial dan zakat, jadi tidak perlu merasa seperti orang yang pelit. Namun banyak anak muda yang merasa sudah sangat lelah ketika harus bekerja sampai malam hari dan tidak punya lagi waktu untuk mempersiapkan masakan sendiri, apalagi menyempatkan diri untuk belanja keperluan rumah tangga dari pasar murah.

Menjawab keluhan di atas, saya hanya berkomentar, bahwa jika anda sudah bekerja sepanjang hari dengan penghasilan yang rendah, berarti anda bekerja ditempat yang salah, sudah waktunya cari pekerjaan baru yang penghasilannya lebih baik. Hal ini biasa dilakukan oleh orang muda yang punya karir cemerlang. Oleh karena itu, bekerjalah dengan baik, supaya bisa minta naik gaji kepada atasan, atau cari kerja diperusahaan lain yang bisa membayar gaji lebih mahal.

Ada lagi yang mengatakan, bahwa dengan nilai tabungan yang sangat kecil, bagaimana mungkin saya memperoleh properti yang sekarang ini harganya sudah selangit?

Sebenarnya, harga properti memang akan terus naik, namun begitu banyak cara memperoleh properti dengan harga murah. Salah satu yang harus dipertimbangkan adalah, lokasi dan jenis propertinya. Untuk harga murah, kita bisa memilih properti dengan lokasi yang sederhana, misalnya diperkampungan dengan fasilitas jalan kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Tentu saja hal ini, terkesan kurang sesuai harapan, namun sebenarnya potensi hunian di daerah perkampungan padat, sangat potensial, karena harganya yang relatif murah, dan bisa di jadikan tempat kost karyawan yang lumayan mahal.

Alternatif lain untuk memperoleh properti adalah dengan membeli properti dipinggiran kota dengan cara kolektif. Caranya dengan mengumpulkan sejumlah orang sahabat untuk patungan membeli tanah yang cukup luas untuk dibagi-bagi menjadi kavling yang lebih kecil. Cara ini seperti membeli rumah secara grosir, dan sudah tentu harganya akan relatif murah, karena membeli tanah yang luas akan memperoleh harga per meter yang relatif lebih murah, apalagi jika lokasinya didaerah pinggiran kota. Banyak orang yang takut membeli tanah luas karena tidak mampu membelinya, padahal tanah luas itu masih bisa dijual lagi dalam bentuk kavling lebih kecil dengan harga mahal, dan hasil keuntungannya bisa menjadi subsidi loh.

Jika alternatif tersebut di atas masih juga sulit untuk diperoleh, masih ada cara investasi lainnya yang relatif murah dan mudah, yakni dengan membeli properti berupa tanah sawah produktif di pedesaan, yang tanahnya relatif sangat murah namun bisa menghasilkan beras untuk keperluan konsumsi bulanan, yang juga akan menghemat pengeluaran. Investasi semacam ini sangat menguntungkan dalam jangka panjang, karena akan menghemat pengeluaran, sekaligus menambah penghasilan dari hasil panen yang diperoleh setahun bisa dua atau bahkan mencapai empat kali panen.

Berapa sih nilai tabungan untuk memperoleh properti seperti tersebut di atas, ayo kita hitung saja dengan harga pasaran tahun 2017 ya….

Contoh, tanah di desa jawa tengah, ukuran 3000m, masih bisa diperoleh dengan harga @Rp30ribu, sehingga tanah seluas itu bisa dibeli dengan harga hanya Rp90juta. Jika dibeli secara patungan dengan 5 orang, maka cukup hanya membayar Rp18juta, atau kalo kita mau menabung, paling tidak cukup Rp750ribu per bulan, selama 24 bulan saja. Murah kan…

Tanah ini, akan terus naik nilainya paling tidak 10% pertahun, sehingga kalo dalam 5 tahun kedepan akan dijual lagi, nilainya bisa mencapai Rp145jt, atau memperoleh capital gain sampai 60%, tentu saja kenaikan ini hanya estimasi saja. Pada prakteknya sangat tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Apabila lokasi tersebut dekat dengan pusat pembangunan, maka kenaikan akan lebih tinggi lagi, namun jika tidak ada pembangunan yang signifikan, maka kenaikannya tidak sebesar itu. Ciri ciri pembangunan yang bagus, bisa terlihat pada kondisi jalan sekitar lokasi, semakin dekat jalan, dan kualitas jalan yang semakin baik, akan semakin tinggi nilai propertinya. Apalagi jika di sepanjang jalan tersebut banyak bangunan baru dan semakin ramai.

Jadi memperoleh properti itu mudah, hanya saja kita seringkali melihat properti itu hanya dalam bentuk rumah hunian yang nyaman, mewah dan ditengah kota, padahal banyak properti di desa, di perkampungan tengah kota, dan juga di pinggiran kota yang punya potensi pertumbuhan sangat baik untuk dibeli. Properti juga bisa dibeli secara patungan, karena saat ini banyak tanah atau rumah tua yang tanahnya luas, namun karena harus dijual seluruhnya, maka harganya jadi tidak terjangkau. Namun jika kita ajak teman dekat untuk membeli secara patungan, maka properti tersebut bisa dipecah jadi beberapa kavling yang siap dibangun dengan harga lebih murah dan sesuai dengan budget masing masing.

Rangkaian cerita di atas, merupakan rangkuman dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain, yang menjadi tempat saya berguru.

Semoga bermanfaat….

Link

Hampir setiap hari, sejak saya remaja sudah terpikir, bagaimana rasanya jadi pensiunan. Itu sebabnya saya seringkali mencoba bertanya dan melihat sendiri persiapan orang tua saya dalam menghadapi pensiun. Selepas wafatnya kedua orang tua, saya juga sering bertanya pada para kolega baik yang sedang bekerja, sedang mendekati masa pensiun dan juga yang sudah pensiun. Apa saja sih pertanyaan yang seringkali saya ajukan pada mereka dan untuk apa saya bertanya?

Ini dia alasan saya…

Sebenarnya saya galau juga menghadapi masa tua yang tidak ada kepastian seperti apa kita akan lalui, karena pada dasarnya kita akan hidup sendiri, dimana anak anak sudah punya keluarga sendiri, dan seandainya pasangan kita masih hidup, tentu akan lebih nyaman, apalagi jika kita punya teman yang senasib. Itu sebabnya, saya banyak bertanya pada banyak orang, untuk tahu apa saja yang harus dipersiapkan menghadapi masa pensiun.

Hidup tua, sehat dan bahagia… itu adalah harapan semua orang. Sakit adalah ancaman terbesar yang menyengsarakan serta mengancam harapan hidup semua orang. Kenyataannya, hidup tua, biasanya sudah sakit-sakitan, butuh biaya tinggi, dengan penghasilan rendah, padahal belum tentu anak sendiri akan peduli dengan nasib kita, apalagi orang lain….

Pendekatan spiritual, bermanfaat mengisi ruang hati untuk membahagiakan jiwa, untuk itu kita perlu raga yang sehat, agar bisa bertahan hidup sampai tua.

Pada beberapa orang yang berasal dari negara maju, saya lihat mereka lebih menikmati kehidupan mereka secara individual, bahkan ada yang seolah tidak merasa perlu memikirkan warisan untuk anak anaknya, malah sibuk berlibur dan mengisi hari tua di tempat destinasi wisata di negara lain, dan menjadi tokoh masyarakat setempat, dengan gaya hidup lumayan sejahtera, karena mereka mendapat jaminan hari tua dari pemerintah negaranya dan menghabiskannya di negara dunia ketiga, dengan biaya hidup lebih rendah.

Sebaliknya, pada negara berkembang seperti di Indonesia, nasib para pensiunan akan jauh berbeda. Tidak ada jaminan hari tua yang memadai, setiap orang sibuk bertahan hidup untuk diri masing masing, dan bahkan bukan mustahil terkadang orang tua, masih disibukan untuk mengurus anak-cucunya yang belum bisa mandiri sampai dewasa.

Jadi saat pensiun, sebagian orang akan tetap menerima uang pensiun bulanan, yang cukup untuk membiayai kehidupan rutin yang sederhana. Namun sebagian orang lainnya, masih banyak yang harus bertahan hidup dengan jual barang perabotan rumah tangga untuk membeli sembako, dan bahkan lebih buruk dari itu, jika harus menghabiskan hartanya untuk berobat karena sakit.

Lantas solusinya apa…?

Ini beberapa tips dan trick dari para pensiunan yang berhasil saya gali, untuk kita praktekan sehingga kita bisa menikmati pensiun dengan sehat dan bahagia.

  1. Nikmati suasana spiritual, mendalami agama dan kepercayaan masing masing, untuk mendekatkan diri menuju akhirat, karena sejatinya kita sedang dalam antrian menunggu panggilanNya.
  2. Pelihara kesehatan sejak muda, jaga gaya hidup yang sehat, hindari kebiasaan yang akan mengancam kesehatan. Memang umur ditangan Tuhan, tapi anda tidak mau kan punya umur panjang tapi sakit-sakitan.
  3. Menabung dalam bentuk properti, karena nilainya pasti akan selalu meningkat, dan saat dibutuhkan bisa menjadi penyelamat kualitas hidup kita dimasa tua.
  4. Kuasai harta untuk diri sendiri, jangan pernah membagi harta kepada anak, sebelum waktunya, karena anak punya kesempatan sendiri untuk membangun kehidupannya, tugas orang tua hanya membantu mereka meraih kehidupan dengan baik.
  5. Bersahabat dengan teman teman lama, itu penting karena hanya mereka yang akan tersisa, untuk menemani kita mengisi kegiatan sehari haris, saat kita semua semakin tua.

Dari 5 poin di atas, saya menyebutnya sebagai rumus kehidupan, yang banyak saya peroleh dari pencarian selama ini. Untuk lebih jelasnya akan saya uraikan dalam beberapa halaman blog lagi, agar saya bisa menulisnya dalam waktu yang lebih santai dan senggang, sementara itu jika ada pertanyaan lebih lanjut, bisa memberikan komentar dibawah ini.

Terimakasih.